KILAUAN lampu-lampu hias bergambarkan tulisan Arab tampak jelas menyala-nyala di sepanjang jalan itu.
Dengan dibalut cuaca yang dingin, sepanjang jalan di Tugu Selatan, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, itu tampak seperti bukan di Indonesia.
Ya, sejauh mata memandang memang tampak jelas orang-orang Timur Tengah berlalu lalang.
Mereka sibuk berjalan kaki. Ada yang menumpangi ojek atau menggunakan mobil sewaan untuk melakukan segala kegiatan individu masing-masing seperti membeli makanan, berbelanja di minimarket, atau sekadar berjalan-jalan untuk menikmati cuaca sejuk di Puncak.
Banyaknya orang Timur Tengah atau yang lebih dikenal sebagai orang Arab itu seperti telah menjadikan sepotong jalan Jakarta-Puncak di Kilometer 84 tersebut sebagai 'Kampung Arab'. Jalan sekitar 1 kilometer itu memang ramai oleh orang Arab.
Sepanjang mata memandang di kanan-kiri jalan memang penuh dengan kios-kios yang secara jelas menempelkan huruf-huruf Arab bercampur dengan bahasa Inggris dan Indonesia.
Kios yang lebih dikenal dengan nama warung kaleng itu menjajakan berbagai macam usaha, mulai rumah makan, minimarket, agen perjalanan wisata, tempat penukaran uang, salon, penjual pulsa, hingga kios penjual oleh-oleh.
Salah satunya ialah Badri. Turis pria asal Arab Saudi yang datang ke Puncak bersama dengan teman-teman sebayanya itu tampak sibuk berkomunikasi dengan pemilik warung yang menjual pulsa dan ponsel.
Dengan menggunakan bahasa Arab dan sedikit Indonesia, Badri tampak kesulitan menyampaikan sesuatu hal yang diinginkan.
''Camera, memory card, error,'' itulah yang diucapkan Badri ketika berbincang dengan Media Indonesia, Rabu (10/6).
Ternyata setelah berbincang-bincang, pria 23 tahun itu ingin memperbaiki kamera poket miliknya yang eror alias rusak.
Badri yang datang ke Indonesia bersama dengan empat orang temannya itu menghabiskan liburan di Puncak selama 10 hari.
Mereka pun sudah berada di Puncak sejak tiga hari yang lalu.
''Sebelum bulan puasa, saya kembali ke Arab,'' kata Badri singkat dengan mengucapkan percampuran bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia itu.
Setelah itu, sebagaimana turis, mereka orang Arab pun menghabiskan liburan di Puncak dengan menginap di vila atau hotel-hotel yang ada di sekitar kawasan Tugu Selatan dan Tugu Utara.
Namun, pada umumnya, mereka lebih banyak memilih untuk menyewa vila ketimbang hotel untuk jangka waktu yang lumayan lama.
''Biasanya mereka lebih memilih vila ketimbang hotel dengan menyewa lima sampai tujuh hari. Karena mereka biasa datang satu keluarga atau untuk yang anak muda sejumlah tiga sampai lima orang,'' ujar Haryono, salah satu penjaga vila di kawasan Tugu Selatan.
Haryono menjelaskan, di tanggal-tanggal ini, kunjungan turis Arab cenderung lebih sepi ketimbang dua-tiga bulan sebelumnya.
Pasalnya, sudah berdekatan dengan bulan puasa membuat orang Arab ada yang telah pulang ke negara masing-masing.
Namun, masih banyak juga orang Arab yang tidak pulang saat Ramadan.
''Ada juga yang tidak pulang. Biasanya mereka yang tinggal di sini dalam waktu lama itu orang Iran, Pakistan, Palestina, India, dan Uzbekistan,'' sambung Haryono.
Keramaian juga terasa di salah satu kafe dan rumah makan yang berlokasi di pinggir jalan raya Puncak, tak jauh dari lokasi Kampung Arab.
Mereka tampak asyik mengobrol satu sama lain dan mengisap sisha atau rokok aroma rasa buah-buahan sembari menikmati cuaca dingin di Puncak.
Sangat jarang orang lokal ditemukan di kafe tersebut.
Hampir keseluruhan tamu yang datang ialah orang Arab bersama dengan kerabat dan keluarga masing-masing.
Bahkan, saluran televisi yang dipasang di kafe itu pun saluran televisi Arab.
''Ya beginilah kehidupan malam di sini. Kebanyakan isinya orang Arab semua kalau sudah malam. Apalagi kafe-kafe yang namanya saja sudah menggunakan bahasa Arab. Pasti isinya orang Arab semua, jarang ada orang lokal,'' tambah Haryono.
Bisnis menjamur
Banyaknya turis Arab yang datang ke Indonesia, khususnya ke Puncak, pun membuat biro perjalanan dan pariwisata menjamur di sepanjang jalan yang banyak dihuni turis Arab.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, para biro perjalanan itu lebih memilih untuk menempelkan tulisan berbahasa Arab ketimbang bahasa Indonesia.
Salah satunya ialah biro perjalanan bernama Indonesia Here yang terletak tepat di pusat lokasi Kampung Arab.
Berada di sisi sebelah kiri jalan (dari Jakarta) dan berdiri di sebuah ruko dua lantai, Indonesia Here sudah sangat jelas menyasar turis Arab sebagai pasar utama mereka.
''Iya, target utama kita memang orang Arab. Jika musim orang Arab lagi sepi, penjualan kita juga menurun drastis. Hampir bisa dibilang tidak jualan,'' ungkap Yuda, salah satu pegawai biro perjalanan Indonesia Here.
Tidak hanya bisnis travel, jika sedang tidak musim orang Arab, banyak bisnis lain di sekitaran Kampung Arab yang terkena imbasnya, seperti bisnis makanan dan minuman, minimarket, dan sektor jasa lainnya.
Oleh sebab itu, Yuda mengakui di lokasi tempatnya bekerja memang orang Arab membuat perekonomian masyarakat lokal menjadi lebih baik.
''Kalau lagi sepi itu biasanya pas bulan Ramadhan, ya sekarang ini karena sudah banyak yang pulang ke negara masing-masing. Nah jika sudah sepi, banyak yang kasih diskon untuk barang dagangan di sekitaran sini,'' sambung Yuda.
Untuk bisnis travel sendiri, setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
Biro travel yang mulai beroperasi sejak 2009 lalu itu memaparkan bahwa setiap tahunnya ada peningkatan penjualan sekitar 5%-10%.
''Per musim (setiap tiga bulan), biasanya ada sekitar 300 grup yang satu grup biasanya terdiri dari empat orang. Jadi semusim kami bisa menjual paket wisata ke 1.200 orang Arab,'' jelas Yuda.
Perputaran roda ekonomi di sektor pariwisata untuk orang Arab diakui Yuda memang sangat terasa.
Tak hanya di Puncak, kota lain seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lombok juga terkena dampaknya.
Banyak di antara orang Arab yang menghabiskan liburan mereka tak hanya di Puncak, tetapi juga ke kota lain.
''Jika mereka mendarat di Jakarta, stay di sana dua hari. Lanjut ke Puncak, bisa stay lima hari. Nah biasanya ada juga yang lanjut semisal ke Bandung atau ke Bali. Jelas dengan itu perputaran ekonomi terasa karena semua sektor mulai jasa pariwisata, makanan dan minuman, hingga UKM penjual pernak-pernik akan terimbas semua,'' sambungnya.