Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI kemacetan di Kota Bekasi pada akhir pekan di awal bulan semakin kejam.
Saking macetnya, ratusan kendaraan nyaris tak bergerak di sepanjang jalan protokol Kota Bekasi.
Jalanan pun jadi mirip lahan parkir.
Imbasnya, kemacetan tidak hanya terjadi di ruas jalan protokol, tetapi juga terjadi di jalan-jalan kolektor sejak pagi hingga malam hari.
Fina Aviana, 23, mengeluhkan waktu perjalanannya dari kediamannya di Perumahan Pondok Timur Indah, Bekasi Timur, menuju tempat kerjanya di Perumahan Harapan Indah, Medan Satria, yang biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam, menjadi 2 jam pada akhir pekan di awal bulan.
"Biasanya saya paling lama 60 menitlah sampai kantor. Ini jadi lama sekali, padahal saya naik motor, lo," keluhnya saat ditemui, kemarin.
Fina menjelaskan dirinya terpaksa harus keluar rumah pada akhir pekan lantaran tuntutan pekerjaan.
Kemacetan sudah terjadi 1 kilometer dari rumahnya, tepatnya di pintu masuk Perumahan Pondok Hijau II hingga perempatan Jalan Joyomartono-Chairil Anwar.
Kekesalan senada juga diungkapkan Amri, warga Mustikajaya, Kota Bekasi.
Pada Sabtu (2/4), ia terpaksa menghabiskan waktu perjalanan selama 3,5 jam dari Sumber Arta menuju kawasan Summarecon Mall Bekasi.
Padahal, biasanya ia hanya memerlukan waktu 45 menit untuk sampai ke tempat tujuan.
Kemacetan di Kota Bekasi bertambah parah, kata Amri, setiap awal bulan karena banyak warga yang memilih berbelanja selepas gajian.
"Sepertinya warga Kota Bekasi suka keluar rumah untuk berbelanja sehabis gajian."
Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kota Bekasi Ajun Komisaris Bayu Pratama mengakui kemacetan memang berlangsung lebih parah setiap akhir pekan di awal bulan.
Bayu mengatakan, berdasarkan analisis Satlantas Kota Bekasi, volume kendaraan kian meningkat saat akhir pekan.
Namun, jumlahnya semakin banyak setiap awal dan akhir bulan. Kendaraan itu tidak hanya berasal dari Kota Bekasi, tetapi juga dari wilayah sekitar seperti Cibubur, Jakarta Timur, Cikarang, hingga Karawang.
"Kendaraan yang masuk ke Kota Bekasi dari daerah lain lebih banyak saat akhir pekan, terutama saat seusai gajian pegawai negeri dan swasta," tuturnya.
Saat ini, menurut dia, tidak ada solusi cepat yang bisa dilakukan selain menempatkan personel pengatur lalu lintas di tempat-tempat yang rawan kemacetan.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi pelanggaran lalu lintas yang bisa memperparah kemacetan.
Seperti angkutan umum yang mengetem, ojek yang memangkal di bahu jalan, sampai dengan pengendalian arus dengan buka tutup jalur bila dibutuhkan. (Gana Buana/J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved