Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Layanan Trans-Jakarta masih Jauh dari Nyaman

Irwan Saputra
04/4/2016 05:15
Layanan Trans-Jakarta masih Jauh dari Nyaman
(MI/PANCA SYURKANI)

RENCANA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghapus 3 in 1 di semua jalan protokol mulai besok sejatinya bagian dari upaya 'memaksa' warga Jakarta untuk beralih ke transportasi publik.

Namun, seperti apakah wajah transportasi umum di Ibu Kota saat ini?

Tidak cuma kecepatan dan keamanan, kenyamanan juga menjadi faktor penentu bagi warga Jakarta dalam memilih transportasi umum.

Keamanan menjadi tak kalah penting mengingat pencopetan dan pelecehan seksual kadung menjadi stigma yang menggelayut di pikiran publik.

Agatha, 24, pengguna rutin jasa angkutan bus Trans-Jakarta dalam lima tahun terakhir, mengaku selalu diliputi rasa waswas setiap kali berada di halte, terlebih di jam sibuk.

Sebagai upaya untuk melindungi barang-barang berharga miliknya, biasanya ia memasukkan telepon seluler dan dompet ke tas punggungnya, kemudian memindahkan ranselnya ke bagian depan tubuhnya.

"Kalau seperti ini kan kita jadi bisa lihat tas kita, jadi lebih aman daripada digendong di belakang," kata perempuan yang biasanya menaiki bus dari halte depan kantor Jamsostek di Jalan Gatot Subroto itu.

Ia setuju dengan rencana pemerintah memaksa warga menggunakan angkutan umum guna mengurai masalah kemacetan di Jakarta.

Namun, ia menyayangkan sikap pemerintah yang masih setengah hati mereformasi sektor transportasi publik.

Selain keamanan, sebut dara berambut sebahu itu, faktor kenyamanan juga kerap terabaikan.

Tak jarang ia mendapat perilaku asusila dari lawan jenis saat berdesak-desakkan di dalam bus Trans-Jakarta.

"Ada penumpang yang berada tepat di belakang saya kemudian merapatkan tubuhnya ke saya. Dalihnya, karena bus yang penuh. Banyak modus pelecehannya. Misalnya saat masuk ke bus, saya didorong sambil badan menempel. Begitu juga pas di dalam bus, biasanya dia cari kesempatan saat bus mengerem mendadak," terang Agatha.

Rasa waswas dan tak nyaman bukan hanya dimonopoli kaum hawa.

Ferry Simanungkalit, 26, yang biasa naik bus Trans-Jakarta dari Halte Slipi Kemanggisan menuju Jembatan Besi, mengaku sudah beberapa kali kecopetan di dalam bus yang di dalamnya selalu ada petugas keamanan itu.

Saking seringnya, ia sampai hafal ciri-ciri pencopet.

"Dia selalu naik di jam sibuk, saat penumpang penuh berdesakan. Saat di dalam bus, biasanya matanya jelalatan ke sana kemari. Kalau soal penampilan, gayanya persis seperti orang kantoran," terangnya.

Satuan khusus

Karena tak mau menutup mata, pihak pengelola bus Trans-Jakarta mengaku masih menerima aduan dari pengguna.

Aduan yang paling banyak ialah soal pencopetan dan pelecehan seksual, selain jauhnya jarak waktu antarbus di jam sibuk.

Kepala Humas PT Trans-Jakarta Prasetia Budi mengatakan jumlah tindak kriminal, baik di halte maupun di dalam bus, kini sudah menurun, walau ia sendiri tidak dapat menunjukkan angka penurunannya.

"Itu karena ada peningkatan pengamanan oleh Trans-Jakarta. Jadi di setiap bus itu ada petugas on board yang berperan sebagai sekuriti sekaligus pemberi informasi kepada penumpang," jelasnya.

Selain itu, sambungnya, dalam satu tahun terakhir ini, perusahaan pelat merah itu telah mempertebal sistem keamanan dengan menerjunkan sebuah satuan khusus.

"Satuan khusus itu terdiri dari dua bagian, tim pengamanan terbuka dan tim pengamanan tertutup. Yang terbuka, pakaian dinasnya hitam dan tugasnya berkeliling di setiap koridor. Kemudian yang tertutup, dia berbaur dengan penumpang, berpakaian biasa, itu sebagai strateginya," jelas Prasetia.(J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya