Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Survei: Ada Anak yang Paranoid akibat Pandemi Covid-19

Ihfa Firdausya
11/4/2020 13:47
Survei: Ada Anak yang Paranoid akibat Pandemi Covid-19
Sejumlah anak bermain dakon (congklak) di Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah, Minggu (5/4/2020).(Antara)

KEMENTERIAN Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melalui Forum Anak Indonesia melakukan survei terhadap anak-anak Indonesia tentang covid-19. Survei yang dilakukan di 29 provinsi selama dari 26-29 Maret 2020 ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan pengetahuan anak tentang covid-19.

Responden survei ini adalah anak berusia di bawah 18 tahun dengan 69% responden anak perempuan dan 31% anak laki-laki.

Baca juga:Tiga Startup Lokal Berkolaborasi Bikin Bilik Sterilisasi

Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA Eko Novi Ariyanti menyampaikan hasil temuan survei tersebut dalam konferensi jarak jauh di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (11/4).

Pertama, dalam survei tersebut, sebagian anak mengatakan bahwa sumber informasi covid-19 paling banyak diterima melalui platform internet. Sebesar 70% anak mempercayai bahwa informasi yang mereka terima adalah valid.

"Dan 73% anak menganggap informasi yang mereka terima sudah cukup informatif," ungkap Eko.

Sementara itu, dalam hal pengaruh penyebaran covid-19 pada anak, mereka menyatakan bahwa sebagian besar anak menjadi sangat waspada terhadap situasi ini.

Baca juga:300 Ribu Alat Rapid Test Impor Tiba di Indonesia

"Ada juga yang lebih paranoid. Ini juga harus kita waspadai karena mereka akan terganggu psikologisnya," jelas Eko.

Di sisi lain, imbuhnya, anak-anak yang mengganggap pandemi ini biasa saja akan membuat mereka tidak peduli terhadap kondisi tersebut.

Selanjutnya, 98% anak merasa bahwa covid-19 berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola hidup mereka menjadi lebih bersih dan sehat.

Survei ini juga menunjukkan harapan anak-anak terhadap situasi wabah covid-19.

"Mereka berharap bahwa wabah covid-19 dapat tertangani, cepat reda, usai, dan kembali seperti sediakala sebelum Ramadan tiba," ungkap Eko.

Selain itu, lanjutnya, anak-anak berharap bisa mendapatkan akses internet gratis selama belajar dari rumah.

"Persepsi anak tentang belajar di rumah, 90% anak menganggap bahwa gerakan di rumah saja adalah hal yang sangat penting," jelasnya.

Namun, sebanyak 58% anak punya perasaan tidak senang selama belajar di rumah. Hal ini antara lain karena mereka sulit untuk berinteraksi dengan teman-temannya.

"Terakhir, harapan anak tentang belajar di rumah, mereka berharap tidak banyak tugas saat belajar di rumah, kemudian ada komunikasi dua arah, dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif, penyediaan fasilitas internet beserta perangkatnya yang mumpuni, dan penyediaan ebook edukasi," pungkas Eko. (Ifa/A-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya