Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 50 orang yang didominasi oleh ibu rumah tangga berdatangan dari Kampung Gagak, Tangerang, Banten, menuju ke tempat pembuatan nian gao atau kue keranjang milik Ny Lauw di Jalan Baouraq Gang SPG.
Mulai pukul 03.00 wib, mereka menumbuk beras ketan hingga halus.
"Cuma ibu-ibu, yang muda-muda sudah jarang, mereka lebih senang bekerja di pabrik yang ada di sekitar sini, pekerjaan itu lebih bergengsi menurut mereka," kata Reni Sandjaya, menantu dari cucu generasi ketiga Ny Lauw.
Saat rombongan Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) yang dipimpin William Wongso, dan Santhi Serad tiba di tempat itu, hanya segelintir penumbuk beras yang tersisa.
Yang lainnya mengerjakan pekerjaan lain, melipat daun pisang pembungkus sebagai rangkaian pembuatan kue keranjang.
Reni, melakukan kontrol dari awal hingga akhir pembuatan kue khas Imlek itu.
Menurut dia, menyambut Imlek 2016 ini Ny Lauw telah menyiapkan 1 ton beras ketan sebagai bahan utama pembuatan kue.
Beras yang telah diayak kemudian dicampur air gula, didiamkan sekitar 20 hari, lalu kembali dicampurkan dengan air gula, dan diaduk menggunakan mesin.
Setidaknya sebulan hingga mendekati Imlek, Ny Lauw telah membuat kue keranjang secara rutin sejak 1962.
Memang kue keranjang itu hanya dibuat semasa Imlek. Pada hari biasa, pekerja yang jika ditotal jumlahnya ratusan, termasuk lelaki membuat dodol betawi dengan beragam rasa.
Untuk membuat kue keranjang dan dodol, Ny Lauw menggunakan bahan bakar dari kayu pohon asem berukuran besar karena tidak menyisakan debu sehingga kue bersih.
Tidak jauh dari dapur puluhan ibu berkumpul di ruang belakang rumah menunggu kue keranjang yang hampir matang setelah dikukus selama 12 jam untuk dibungkus.
Mereka adalah pekerja musiman yang jika tidak dalam masa Imlek, mereka berdagang di pasar, ibu rumah tangga, atau buruh cuci.
"Di sini kerja dari jam 3 pagi sampai siang dibayar 65 ribu," kata seorang pekerja.
Gudang penyimpanan kue keranjang Ny Lauw saat ACMI berkunjung pada 23 Januari, hampir penuh dan siap didistribusikan.
Reni mengaku tidak menjual kue keranjangnya ke luar daerah.
"Saya sih nggak jual sampai jauh ya, ada orang ambil banyak saya layani, tapi memang ada yang bilang sudah sampai ke Singkawang," katanya.
Reni menambahkan, kue keranjang pada prinsipnya siap disantap.
Namun dia tidak menyalahkan jika banyak orang berselera ikudap dengan parutan kepala, atau dilapisi telur dan digoreng.
"Rasanya sama-sama enak," katanya. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved