Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pengemudi Go-jek Batal Demo

Nelly Marlianti
03/11/2015 00:00
Pengemudi Go-jek Batal Demo
(Antara/Indrianto Eko Suwarso)
PARA pengemudi Go-jek yang sebelumnya akan melakukan aksi demo di depan kantor pusat Go-jek di Jalan Kemang Raya Selatan, hari ini, mendadak batal.

Tak nampak adanya kegiatan demonstrasi di depan kantor Go-jek. Aktifitas di kantor tersebut pun masih berjalan nomal. Kerumunan pengemudi Go-jek pun tidak terlihat disekitar kantor. Hanya ada beberapa pengemudi Gojek yang datang untuk mencari tahu kebenaran aksi tersebut, bahkan ada juga yang malah narik penumpang di depan kantro Go-jek.

Budi,37, salah satunya, pengemudi Go-jek ini lebih memilih mengangkut penumpang lantaran tuntutan kebutuhan hidupnya. Menurutnya, bekerja lebih penting dari pada ikut-ikutan demo.

"Nggak lah ngapain, anak saya lagi nangis minta jajan. Makanya saya kerja biar bisa kasih jajan anak dan istri saya," ungkapnya.

Dia membenarkan, semalam di grup whattsapp miliknya memang disebarkan undangan untuk melakukan aksi. Namun, setelah itu, ada undangan lainnya dari pihak manajemen Go-jek yang menyatakan agar para pengemudi Go-jek tidak terpengaruh dengan provokasi.

"Ada imbauannya, agar jangan terprovokasi. Makanya saya tidak ikutan," tandasnya.

Ditempat yang sama pengemudi lainnya Muhammad Nisa mengungkapkan, sebenarnya dengan penurunan tarif km go-jek dari Rp4000 ke Rp3000 membuat pengemudi gojek merugi. Meskipun pembagian keuntungan antara pengemudi dan go-jek masih 80:20. Penurunan tarif km tersebut akan sangat terasa dampaknya bila banyak permintaan penumpang.

"Dengan tarif diturunin seperti itu, dengan membludaknya pengemudi dan permintaan penumpang yang banyak. Tentulah kami merasa dirugikan," ungkapnya.

Menurutnya, sudah banyak pengemudi Go-jek yang memilih meninggalkan Go-jek dan beralih pada perusahaan aplikasi ojek online lainnya. Para pengemudi ini meninggalkan Go-jek jauh sebelum adanya pemotongan tarif km, namun karena adanya pungutan yang tidak jelas. Bahkan, setiap pengemudi dapat dipotong Rp50 ribu-Rp100 ribu per hari.

"Kalau kata suvervisor saya itu ulah orang financial yang motong-motong katanya sudah ditindak. Tapi saya sendiri belum tahu kejelasannya," jelasnya.

Nisa menambahkan dia sendiri pernah beberapa kali dipangkas Rp100 ribu untuk alasan yang tidak jelas. Tetapi dia enggan melaporkan kejadian tersebut. Biasanya pihak manajemen beralasan pemotongan tersebut untuk biaya kredit motor dan HP. Tapi para pengemudi mengaku sudah lunas.

"Kalau dipotong sekali dua kali mungkin masih bisa terima. Kalau sering, saya merugi banyak," tegasnya.

Hal yang membuat dirinya juga kecewa di samping adanya penurunan tarif, yakni mengenai janji asuransi dari pihak Go-jek terhadap pengemudi yang kecelakaan belum juga ditepati. Padahal, seminggu lalu, Nisa mengalami kecelakaan hingga tulang rusuk dan tulang pungungnya bergeser.

"Ini yang saya kecewa, katanya ada asuransi. Saya kecelakaan gini sampai pada geser tulang saya. Nggak ada tuh jawaban apa-apa dari kantor soal asuransi," keluhnya.

Meski sejumlah keluhan didapatkannya, namun Nisa tidak bisa berbuat banyak. Dia masih berharap manajemen Go-jek mengubah kebijakan tersebut. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya