Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH tendangan di perut bagian kanan dan beberapa pukulan di dada, pipi, dan bagian kepala Hilarius Christian Event Raharjo, mengantarkannya pada ajal. Januari setahun lalu, di Taman Palupuh--di belakang SMAN 7 Kota Bogor, ia diadu fisik layaknya seorang gladiator dengan AB, salah seorang seniornya.
Kemarin (Senin, 25/9) sore, potongan adegan hari itu direka ulang tim reskrim Polresta Bogor Kota. Di taman yang terletak di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara itu, adegan yang berujung kematian Hilarius itu ditirukan selama dua jam melalui 14 adegan.
Tendangan kaki AB dan pukulan tangan kukuh AB itu tetap dilancarkan walau Hilarius sudah menyatakan menyerah. Tampak dua jari tanda damai diacungkan Hilarius dengan pasrah pada potongan adegan ke-12 itu.
Di adegan sebelumnya, Hilarius sempat melakukan perlawanan. Dia dan AB sempat adu kepala yang membuat Hilarius jatuh. Kakinya ditarik dan bagian dadanya diinjak.
Itu disaksikan beberapa siswa yang menjadi saksi, para siswa yang sebelumnya juga beradu fisik satu sama lain. Aksi yang dikenal dengan nama bom-boman itu juga disaksikan MS yang berlaku sebagai wasit.
Gambaran Hilarius yang meregang nyawa diperagakan pada adegan ke 13 hingga 14. Dia sempat dipindahkan dari lapangan ke saung (gazebo) yang ada di taman bagian depan. Tubuhnya diangkat tujuh orang, termasuk tiga tersangka yakni AB, TB, MS. Ada pula saksi GN dan saksi NT yang menyaksikan.
Adegan 13 yang terbagi dari potongan 13a hingga 13f itu menggambarkan Hilarius sekarat. Di saung itu, seorang saksi sempat menempelkan salib rosario ke kening Hilarius. Dia meninggal ketika berada di motor, saat hendak dibawa ke rumah sakit.
Reka ulang itu melibatkan empat tersangka yakni AB, HZ, TB dan MS, serta 14 saksi yang merupakan siswa dari SMA Budi Mulya dan SMA Mardi Yuana.
“Rekontruksi mulai dari jam 3 sampai sekarang, sekitar 2 jam lebih. Kejadian dengan adegan rekontruksi hampir sama persis. Ajang itu betul direncanakan karena ada briefing di awal. Mulai dari awal datang satu-satu. Kelompok satu, kelompok dua,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Ahmad Choerudin.
Meski ajang bom-boman dipastikan sebagai aksi terencana, polisi mengatakan tidak ada aktor intelektual atau sponsornya. Kapolresta Bogor Kota Kombes Ulung Sampurna Jaya mengatakan, dari total lima tersangka, termasuk FR yang buron, punya peranan sebagai wasit, pemain, dan penunjuk atau pengatur.
“Itu tradisi, tidak tiap tahun. 2015 tidak jalan. Nah, 2016 tidak ada, makanya oleh para alumni diadakanlah. Itu hanya pengakuan. Rivalitas saja. Menangnya juga tidak dapat hadiah,” ujarnya. (J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved