Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERAPAN hari bebas kendaraan bermotor (HBKB/car free day) gagal mengurangi polusi udara di Jakarta. Penurunan polusi udara hanya terjadi di jalan-jalan HBKB, sedangkan di jalan lain tidak berubah.
Koordinator Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad 'Puput' Syafrudin mengungkapkan hal itu di Balai Kota, kemarin (Jumat, 22/9).
"Hal ini dipengaruhi gaya hidup mobilitas masyarakat Jakarta yang belum meninggalkan kendaraan bermotor pribadi sejak HBKB diberlakukan 2005. Selama 12 tahun ini alternatif menggunakan sepeda dan berjalan kaki di trotoar sulit dibiasakan," cetusnya.
Puput menyebutkan penurunan kadar polusi di jalanan HBKB tidak mencerminkan penurunan secara keseluruhan di Ibu Kota. Kadar polusi Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin turun saat HBKB, tetapi kawasan Kasablanka malah meningkat karena orang yang biasa lewat Sudirman-Thamrin beralih ke Kasablanka.
Menurut Puput, jika 20% warga Jakarta mengubah gaya hidup bermobilisasi, polusi bisa turun signifikan, seperti halnya di kota-kota maju dunia seperti Paris, Hong Kong, Singapura, dan Bangkok.
Di Jakarta, sekalipun lokasi dan waktu pemberlakuan HBKB ditambah, ia yakin tidak akan menjamin polusi udara berkurang. "Kalaupun HBKB diberlakukan tujuh hari seminggu di kedua ruas jalan itu, belum akan bisa menurunkan polusi udara di Jakarta selama gaya hidup masyarakat tidak berubah. Secara agregat polusi di Jakarta tidak mengalami perubahan. Moda transportasi massal harus jadi jawaban," tandas Puput.
HBKB di Jakarta mulai diberlakukan sejak 2005 seiring dengan terbitnya Peraturan Daerah Nomor 2/2015 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Pemberlakuan di Jakarta terbilang terlambat lantaran di Belanda HBKB diberlakukan sejak 1956.
Kemacetan di Ibu Kota digadang menjadi penyebab. Berdasarkan kajian KPBB tahun 2016, kecepatan rerata kendaraan bermotor di Jakarta hanya 14-15 km/jam.
Imbasnyanya jumlah pengidap penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) mencapai 2,4 juta pada 2012. Jumlah itu meningkat menjadi 2,7 juta pada 2016.
Pada saat pemberlakuan HBKB, Kepala Unit Pengelola Teknis Labora-torium Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Diah Ratna Ambarwati menambahkan, polusi udara di ruas jalan itu menurun hingga 70% jika dibandingkan dengan jalan yang sama tanpa HBKB.
Ambar memaparkan kadar polusi 2015 lebih baik daripada 2016. HBKB mampu menurunkan polusi hingga 75%. Pada 2016, itu berkurang 65%. Ternyata pembangunan yang masif menyebabkan polusi bertambah.
Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi Andri Yansyah menyatakan tidak adanya perubahan polusi karena penerapan HBKB juga tidak berubah dari segi lokasi dan jam. Ia mendesak Pemprov DKI terus menambah lokasi HBKB di Kota Jakarta.
"Kalau semua wilayah ada HBKB, itu akan ampuh mengubah cara pikir masyarakat. Evaluasi sudah banyak, tetapi kita tidak berani menambah jadi dua kali seminggu. Dengan begitu, nanti akan terpola sendiri. Cuma kita enggak berani saja," pungkasnya. (Aya/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved