Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Masyarakat Suka Makan Fitnah

22/9/2017 07:35
Masyarakat Suka Makan Fitnah
()

POLRI telah mengendus berdirinya Saracen sarat dengan kepentingan politik. Saracen hanya satu dari sekian banyak kelompok yang sengaja dipersiapkan untuk membuat dan menebar konten kebencian.

Hal itu diungkapkan Kepala Unit V Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKB Purnomo dalam diskusi Dagangan ala Lapak Saracen di Jakarta Selatan, Rabu (20/9).

Purnomo mengatakan penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Polri tengah mengejar sejumlah kelompok lainnya yang beroperasi serupa Saracen. “Kami juga mengejar donaturnya dan pengelola ujaran kebencian lainnya dari partai politik,” tandas Purnomo.

Sehubungan dengan belum jelasnya hubungan pelaku dengan partai politik, ia berdalih pihaknya tidak hanya terpaku pada laporan analisis dan keterangan tersangka. Penyidik juga akan memastikan hubungan tersangka dengan salah satu petinggi partai.

“Masih perlu pendalaman. Dalam pemeriksaan barang bukti, tersangka mengaku hanya fan dan suka (kepada petinggi partai),” jelasnya.

Namun, penyidik tidak memercayai keterangan tersangka dan tetap menelusuri benang me­rahnya. “Kami tanya, apakah di balik itu ada pemesan, tersangka mengelak. Namun, itu haknya. Apa pun yang dia katakan kami masukkan ke BAP,” jelasnya.

Sebelumnya, polisi menangkap pentolan operasional Saracen meliputi Jasriadi, Muhamad Faizal Tanong, dan Sri Rahayu Ningsih pada rentang 21 Juli-7 Agustus 2017 serta Asma Dewi pada 8 September 2017. Asma Dewi terhubung dengan Saracen, terutama dengan Jasriadi.

Hal itu diketahui dari bukti transaksi senilai Rp75 juta untuk menggunakan jasa Saracen. Mengenai Jasriadi, penyidik membuktikan yang bersangkutan memiliki relasi luas dengan politikus dan media massa.

Narasumber lain dalam diskusi itu, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Abdul Muchit Muzadi, menyatakan saat ini masyarakat sangat mudah di­susupi informasi yang tidak jelas asal muasalnya.

Sikap masyarakat yang langsung memercayai dan langsung pula menyebarkan konten ujaran kebencian menjadi ladang bisnis pihak lain.

“Masyarakat kita ini banyak makan fitnah. Pagi sarapan fitnah, bukan nasi uduk; makan siang malam, itu lagi,” cetusnya. Abdul Muchit mendesak semua alim ulama dan tokoh masyarakat bersama-sama memerangi perilaku penyebaran berita fitnah. “Sekarang sudah mulai banyak alim ulama menjadikan kondisi ini materi khotbah,” paparnya.

Soal desakan masyarakat agar berita hoaks dan ujaran kebencian langsung diblokir, Pelaksana Tugas Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza mengaku pihaknya tidak bisa melakukannya. “Menghadapi konten negatif tidak bisa langsung diblokir karena sudah lebih dulu menyebar,” dalihnya. (Sru/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya