Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SOLUSI kemacetan di jalur Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), akibat pembangunan Jembatan Cisadane sebenarnya sudah ada.
Jauh-jauh hari Himpunan Pengusaha Kecamatan Caringin (HPKC) sudah menyampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, untuk membuat dua jembatan darurat. Tujuannya supaya selama proses pengerjaan pembangunan Jembatan Cisadane, arus lalu lintas tetap dua lajur sehingga tidak menimbulkan kemacetan parah.
Tapi saat ini, ketika proses pengerjaan proyek sudah berjalan selama 300 hari kerja, baru ada satu jembatan darurat atau bailey yang dibangun. Akibatnya jalur Bocimi macet parah. Pembangunan fisik Jembatan Cisadanenya akan dimulai pengerjaannya setelah jembatan darurat selesai.
“Kami sudah usulkan lama, dalam pertemuan itu, Bupati Bogor menerima usulan warga dan pengusaha. Pihaknya (pemkab) pun langsung melakukan komunikasi dengan pihak PUPR,” ujar salah seorang pengurus HPKC yang juga tokoh masyarakat Caringin, Saprudin Jepri, kemarin.
Dari hasil komunikasi itu, ada kesepakatan atau di awal perencanaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), seperti yang disosialisasikan ke warga dan Pemerintah Kabupaten Bogor, akan membangunkan dua jembatan darurat atau baley.
Saat itu, untuk kebutuhan dua jembatan itu, pihak Kemen PUPR meminta kerja sama pemkab dan warga untuk penyiapan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan dua jembatan darurat.
“Itu syarat yang harus dipenuhi PUPR. Kami dan pemkab sudah siapkan lahannya,” kata Saprudin.
Menurut Saprudin yang juga mantan ketua Apdesi (Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia) ini, ada indikasi syarat penyiapan lahan hanya omong kosong. Sebab, secara faktual pekerjaan penggantian jembatan terus berjalan. “Percuma, pemkab sudah banting tulang menyiapkan lahan malah tidak dihargai. Kemacetan parah merugikan kami,” katanya.
Belum Diputuskan
Terkait soal ini, Edyson Rombe, Kepala Bidang Preservasi dan Peralatan II, Kemen PUPR mengatakan, pihaknya sudah menerima usulan dari pihak pengusaha, pengguna jalan, dan Pemkab Bogor.
Namun saat ini, katanya, belum ada keputusan apakah akan kembali dibangun satu jembatan sementara lagi seperti yang diusulkan.
“Sudah ada usulan itu. Dan, kami berkoordinasi dengan pemkab dan pelaku usaha di sana. Saat ini belum diputuskan. Baru besok, mungkin diputuskan,”kata Rombe saat dimintai konfirmasinya oleh Media Indonesia melalui jaringan ponselnya, kemarin.
Dia menjelaskan diawal disepakati hanya satu jembatan bailey yang dibangun selama proses pengerjaan penggantian Jembatan Cisadane. Namun, kemudian ada usulan dua jembatan bailey mengingat perkembangan kondisi di sekitarnya.
“Kami dari bina marga sedang kerja sama dengan pengusaha, untuk menambah satu lagi jembatan. Tadi sore diskusikan. Direncana satu, tapi lihat kondisi padat,”katanya.
Sementara itu, untuk jembatan bailey yang saat ini pengerjaan tengah dijalankan dan ditargetkan selesai 19 September mendatang atau satu pekan ke depan. Ketika mulai dioperasikan, jembatan bailey itu hanya berfungsi satu lajur.
Dengan selesainya jembatan bailey tersebut, lanjut dia, proses pengerjaan penggantian Jembatan Cisadane pun dimulai. Diawali dengan perobohan jembatan dengan bentang 35 meter yang dibangun tahun 1970. (DD/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved