Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
KARTINI, 43, terlihat tengah asyik mengayunkan sodet di atas sebuah wajan panas di depan rumahnya. Warga Jalan Jati Bundar Dalam, Jakarta itu tengah menggoreng lauk olahan ayam kemasan sambil bersenda gurau dengan bahasa kasar dengan para tetangga.
Di dekat Kartini, anak perempuannya, Andin tengah membuka popok sekali pakai yang digunakan bayinya. Limbah popok sekali pakai itu Ia lemparkan begitu saja ke anak kali ciliwung yang letaknya tak jauh dari rumah Andin.
Pemandangan itu, rupanya terjadi tiap hari. Ribuan warga yang tinggal di gang sempit itu menempati ruangan berukuran rata-rata 3x4 meter persegi. Segala aktifitas mereka lakukan di dalamnya. Mulai dari tidur, menonton TV dan lain-lain. Sedangkan untuk mandi-cuci-kakus (MCK) dan kegiatan masak memasak mereka lakukan di luar.
Bayangkan, saat melintas di gang yang berukuran selebar satu meter tersebut aroma busuk pun terendus. Bau asap masakan, apek, sumpek, asap rokok, serta bau busuk anak kali ciliwung yang penuh sampah benar-benar menusuk hidung.
Sampah aneka plastik bertebaran di sepanjang gang. Namun, para orang tua dan anak-anak tampaknya sudah biasa dengan hal tersebut. Bahkan, mereka tak merasa jijik untuk menyantap semangkuk mie rebus di samping anak kali ciliwung yang penuh dengan sampah plastik. Dijamin manusia waras tak akan betah tinggal satu jam lebih di dalamnya.
"Kalau tong sampah dulu pernah di kasih, tapi pada dibuat naro cucian tuh," ujar Kartini.
Warga Jalan Jati Bundar Dalam Nomor 16, RT014/09, mengatakan, membuang sampah di aliran anak Kali Ciliwung merupakan hobi warga sekitar. Ketika ada pembagian tong sampah dari lima warga hanya satu warga yang mau membuang sampahnya di tong sampah tersebut. Sisanya, tetap akan membuang sampah di aliran anak kali Ciliwung.
"Ya mau gimana lagi udah hobi," imbuh Kartini.
Afifah Mutiara warga lainnya mengaku pemerintah memang belum pernah menyediakan tempat pembuangan sampah bagi warga. Namun lingkungan tak sehat ini tercipta pun karena prilaku warganya sendiri.
Anak gadis Ketua RT 014/09 ini mengaku bahwa bapaknya sering kali mengingatkan warga. Namun, warga tampaknya sudah bebal. Meski petugas pengangkut sampah sering lewat untuk mengangkut sampah permukiman warga bagian depan namun warga enggan nimbrung.
"Dulu ada iuran Rp5.000 perminggu buat bayar petugas, tapi sampahnya kita bawa ke depan gang. Kan engga muat mobilnya masuk gang. Tapi cuma bertahan satu minggu selebihnya ya buang sampah lagi di kali," kaya Afifah.
Meski demikian, semesta tampaknya mendukung prilaku mereka. Sebab nyatanya sejak tahun 2009 kawasan tersebut tak pernah banjir. Maklum saja, lantaran aliran tersebut berhubungan langsung dengan Komplek Istana Kepresidenan di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Sehingga, pintu Air Gunung Sahari, Jakarta Utara tetap dijaga agar tak berimbas membuat banjir kompleks kerja pimpinan negara tersebut.
Pernah bajir hebat, kata Afifah, ketika tahun 2007 silam. Itupun, komplek istana ikut kebanjiran.
"Makanya tiap musim panas di sini banyak nyamuk. Kalau musim hujan sih engga banjir, di sini banjir istana kebanjiran," tukas Afifah. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved