Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYALURAN bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diduga kurang tepat sasaran. Ada yang sangat membutuhkan tapi tidak mendapatkannya, sedangkan warga sejahtera malah kebagian santunan.
Pendistribusian bantuan diberikan Sabtu (2/9) di Kelurahan Pondok Benda dan Benda Baru, Pamulang. Ratna, 30, warga Jalan Salak, Pamulang, menceritakan dirinya beserta warga lain mengambil bantuan di RT 03/04, Pondok Benda.
PKH merupakan bantuan pangan dengan nominal uang senilai Rp110 ribu per bulan dan Rp500 ribu per tiga bulan buat pendidikan anak.
Ratna mendapat kartu keluarga sejahtera (KKS) berikut kartu ATM pada Mei 2017 untuk pembelian bahan pangan dan penarikan bantuan tunai pendidikan.
“Tanggal 2 September itu saya dapat beras 10 liter, gula pasir 1 kg, minyak goreng 4 liter, dan telur ayam 1 kg. Dibayar pakai ATM yang saat itu saldonya Rp220 ribu. Semua sembako mereknya enggak jelas,” cetusnya, kemarin.
Ternyata jumlah bantuan yang diterima warga berbeda kendati mengantongi kartu dengan waktu penerimaan yang sama. Anehnya, sejumlah warga tergolong mampu juga terlihat mendapat bantuan serupa.
Masyarakat kurang mampu menyaksikan langsung tetangganya yang hidup sejahtera ikut mengambil sembako di rumah Mandor Sanan. “Ada beberapa ibu yang sebelumnya dapat, tapi sekarang enggak dapat. Tapi tetangga saya yang punya agen sembako besar, kios bakso, sama fotokopi, malah dapat bantuan,” beber Ratna.
Penerima bantuan menjadi waswas karena petugas minta nomor PIN dan kartu ATM mereka dengan dalih pendataan ulang. “Saya baru sadar, iya juga sih kenapa nomor PIN ATM diminta. Mana uang bantuan pada enggak jelas. Bisa-bisa malah (ATM) digesek petugas. Ini kapan dibalikinnya enggak diberi tahu,” imbuhnya.
Penyaluran bantuan PKH diakomodasi tenaga kerja sukarela kelurahan. Penerima sesuai dengan data dari Dinas Sosial Tangsel yang telah diveririfikasi Kantor Kementerian Sosial.
Parameter penerima
“Kami di sini hanya mendampingi. Ini kan program pemerintah pusat. Masalah bantuan sosial memang sensitif. Saya sudah mengimbau jajaran supaya tidak me-ngutip apa pun kepada masyarakat meski sifatnya operasional,” jelas Camat Pamulang Deden Juardi.
Ia tak menampik ada warga penerima yang kondisi ekonominya mampu. Deden bahkan sudah bertemu langsung di Pondok Cabe.
“Yang datang nenek-nenek, tapi pakai kendaraan bagus. Katanya ngambilin punya saudaranya. Memang agak susah menentukan parameter warga penerima bantuan. Data Kemensos sama Badan Pusat Statistik soal jumlah warga miskin saja berbeda,” ucapnya.
Terkait dengan masalah PIN, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kota Tangsel, Salbini mengaku belum menerima informasi tersebut. “Perlu dicatat! Alasan pendataan ulang sama pengecekan saldo tidak benar itu. Kenapa harus minta ATM. Data lama kan sudah ada, tinggal dicek ulang saja,” ketusnya.
Pada dasarnya, lanjut dia, pengecekan saldo dapat dilakukan warga penerima bantuan itu sendiri. Apabila dana bantuan belum masuk setelah dicek, yang bersangkutan dapat menanyakan ke dinas sosial. Setelah itu dikonfirmasi ke Bank BNI. (DA/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved