Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGENDALIAN penggunaan kendaraan pribadi baik mobil dan motor bisa saja dilakukan. Asalkan angkutan umum yang baik, aman, dan nyaman sudah tersedia. Kalau syarat itu belum terpenuhi, pembatasan akan dilawan masyarakat.
“Tingkat penggunaan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor di Jakarta disebabkan tidak ada fasilitas angkutan umum yang baik, aman, nyaman, dan mudah diakses,” kata Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan melalui pesan singkatnya yang diterima di Jakarta, kemarin.
Tingkat penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi, kata Tigor, menyebabkan kema-cetan di Jakarta. Karena itu, mengatasinya seharusnya dengan menyediakan transportasi umum yang baik, aman, nyaman, dan mudah diakses, bukan sekadar membatasi kendaraan pribadi.
Apalagi, kebijakan pembatasan kendaraan pribadi terkesan tidak adil karena ada perbedaan perlakuan antara mobil dan motor. “Pelarangan penggunaan kendaraan pribadi harus diberlakukan pada keduanya, mobil dan motor. Penyebab kemacetan di Jakarta bukan hanya motor, tetapi juga mobil pribadi yang tinggi,” tuturnya. Karena itu, pihaknya akan ikut menolak pelarangan motor di jalan protokol Jakarta bila tidak disediakan alternatif angkutan umum massal yang memadai tersebut.
Soal rencana pembatasan motor, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko beralasan diperlukan sebagai kebijakan transisi menjelang penerapan electronic road pricing (ERP). Selain itu, juga sebagai wujud edukasi warga Jakarta untuk mengubah kebiasaan berkendara.
“Roda dua kan bukan angkutan umum. Ini challenge. Masyarakat diuntungkan dengan pembatasan roda dua, mereka berhak menuntut angkutan umum yang lebih layak,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Djarot mengharapkan pembatasan sepeda motor dapat berdampak pada ketepat-an waktu bus Trans-Jakarta. Pasalnya, salah satu penyebab molornya jarak waktu (headway) bus Trans-Jakarta ialah jalur yang tidak steril. “Headway dari Trans-Jakarta yang beberapa kali ini tidak tepat waktu, salah satu penyebab utama adalah jalur Trans-Jakarta sulit disterilisasi, karena kepadatan luar biasa, ya makanya headway di beberapa halte itu cenderung tidak tepat waktu,” katanya. Padahal, jumlah armada Trans-Jakarta utamanya di Koridor 1 telah mencukupi. Namun, persoalan ada pada ketepatan waktu sehingga ada penumpukan penumpang. (Ant/Nic/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved