Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mereka Berhak Kembali Hidup di Tengah Warga

31/8/2017 09:33
Mereka Berhak Kembali Hidup di Tengah Warga
(MI/NICKY AULIA WIDADIO)

‘Ob-La-Di, Ob-La-Da, life goes on...’ lantunan lagu dari band legendaris asal Inggris The Beatles itu didendangkan penuh semangat oleh seorang pria berkemeja kotak-kotak, Rabu pagi itu. Kakinya menghentak mengikuti irama lagu. Semua di Panti Sosial Bina Laras mengenalnya sebagai John Lennon.

Pagi itu, seluruh penghuni panti berkumpul di lapangan. Mereka menyambut kedatangan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Di tengah mereka, seorang petugas mengayun tangan bak dirigen, memandu John Lennon dan rekan-rekannya bernyanyi.

“Namanya John Lennon, enggak tahu aslinya siapa. Pokoknya dia bilangnya John Lennon,” kata Corry, salah satu petugas panti. John yang memang penggemar berat The Beatles itu ialah seorang warga binaan di sana. Ia mengidap gangguan jiwa kategori ringan.

Jangan bayangkan para penghuni panti itu seumpama stigma para penderita gangguan jiwa di jalanan. Tidak ada rambut gimbal, tidak ada pakaian kotor. Mereka semua berpenampilan rapi. Para pria sehari-harinya berbaju biru dengan rambut plontos. Sementara itu para wanita menggunakan seragam berwarna merah muda.

Berbagai keterampilan yang bisa dilakukan para warga binaan ditampilkan pagi itu. John Lennon dan lima orang rekannya, bermain musik. Puluhan orang lainnya mengerjakan anyaman keset, membuat sapu dan pel, hingga belajar menulis catatan harian.

Mereka juga turut melakukan tugas harian, seperti bersih-bersih, menata vas bunga, hingga mencuci baju mereka sendiri.

Mereka bisa diajak berkomunikasi dengan baik sebab para penghuni di PSBL 3 ialah pengidap kategori ringan. Hanya selangkah lagi hingga mereka kembali ke masyarakat untuk menjalani kehidupan normal.

“Mereka sudah bisa mengenali dirinya, sudah bisa mengingat keluarganya, bahkan alamat rumahnya sudah tahu. Berbeda dengan warga binaan di Panti Laras 1 (kategori berat), ditanya tentang dirinya enggak tahu karena masih terkoyak dirinya,” kata Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Masrokhan.

Hanya saja, perkara kembali ke keluarga dan menyambung hidup di tengah masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semua penghuni memiliki keluarga. Pun jika masih, tidak semua keluarga mau menerima mereka.

“Kalau penerimaan dari keluarga tidak baik dan mereka putus obat, ada kemungkinan akan terpicu untuk kambuh. Tapi tidak ada yang kambuh tiba-tiba, jadi sebenarnya enggak perlu takut selama mereka diterima dengan baik,” kata Corry kepada Media Indonesia. (Nicky Aulia Widadio/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya