Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
MASIH segar di ingatan Ester, kenangan manis pada 11 April 2014 silam ketika Joko Widodo alias Jokowi yang pada waktu itu menjabat Gubernur DKI Jakarta bertandang ke lahan hidroponik dalam greenhouse itu.
Bersama sembilan rekannya sesama anggota Kelompok Tani Cluster A RW 10 Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, kala itu Ester sibuk mencari air untuk cuci tangan pria yang kini menjadi Presiden RI itu ketika hendak mencicip sawi mentah hasil tanam hidroponik karya warga rusun.
“Ketika itu Pak Jokowi sendiri bilang rasa sawi kami lebih manis. Dia makan itu mentah-mentah,” kenang Ester dengan seulas senyum.
Dengan bangga, ia menunjukan selembar foto dirinya dan Jokowi yang sudah mulai pudar. Tampak di foto itu seluruh modul tanaman yang terbuat dari paralon dirimbuni sayur-mayur hijau.
Namun, kondisinya sungguh lain ketika Media Indonesia melongok greenhouse di lahan seluas 14x60 meter yang terletak di Cluster A Rusun Marunda itu, kemarin.
Ruang berdinding dan beratap terpal plastik bening itu masih berisi belasan modul tanaman berbentuk segitiga sama kaki memanjang sekitar 2-3 meter. Satu modul bisa ditanami 13 tanaman sehingga jika seluruhnya ditanam, seharusnya bisa mencapai 700 tanaman.
Namun, kini hanya setengah modul yang ditanami. Sisanya gundul. Ester bercerita, kondisi sekarang memang berbeda dengan kondisi saat pertama kali greenhouse diresmikan. Kala itu, sawi, kailan, dan salada biasa dijual di Pasar Sunter dan warga rusun hingga kelompok tani bisa mengantongi uang Rp5 juta sebulan.
“Itu kita putar lagi untuk beli bibit, nutrisi, pupuk, dan media tanam. Sepuluh anggota mendapat Rp100 ribu untuk uang jajan. Tapi sekarang sudah enggak begitu,” ujar wanita yang menghuni rusun itu sejak 2010.
Saat para pengurus tahu bahwa menanam sayuran secara hidroponik bisa membawa pundi-pundi uang, lanjutnya, konflik internal pun muncul seputar masalah uang.
“Awal kita kerja, kita tidak melihat uangnya. Awalnya mana kita tahu sih bisa dapat uang jutaan? Setelah berjalan dapat duit besar, mulai keserakahan kami timbul sehingga sampai sekarang,” katanya.
Kini, menurut Ester, perhatian utama bukan tentang tumbuhnya tanaman. Warga hanya ingin mengelola greenhouse bila ada bayaran. Dari ratusan warga rusun, jumlah kelompok tani tak pernah bertambah, tetap 10 orang.
“Kalau gue kerja, gue dibayar enggak? Begitu mereka bilang, orientasinya uang. Sementera anggota yang awal dulu bermodalkan rasa ingin tahu. Kita tulus bekerja. Ketika tidak tulus, itu juga berdampak pada tanaman,” kisah Ester.
Greenhouse yang di bawah Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Marunda itu pun kini hidup ala kadarnya. Begitu pula lahan tani konvensional yang kini dibangun di samping greenhouse. Geliatnya tak seberapa. Tidak sampai seperempatnya ditanami cabai. Sisanya kosong. (Yanurisa Ananta/J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved