Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Jakarta masih jadi Kota Tikus

Nicky Aulia Widadio
07/8/2017 08:23
Jakarta masih jadi Kota Tikus
(Penumpukan sampah yang tidak terkendali di pemukiman warga Jakarta menjadi salah satu penyebab cepatnya perkembangbiakan tikus yang rentan penyakit leptospirosis. -- MI/Ramdani)

SEEKOR tikus mengintip dari lubang air di sebuah jalan di kawasan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepat ketika sebuah taksi menepi di dekatnya. Ketika pintu taksi terbuka, si tikus tengah siap meloncat dari lubang, disusul pekik seorang perempuan, lantang. Nadia Rizka, 24, si sumber pekikan itu, secara refleks membanting kembali pintu mobil yang baru terbuka sedikit.

“Terpaksa keluar mobil lewat pintu yang satunya lagi. Tikus itu salah satu hewan yang paling saya takuti,” tuturnya. Sialnya, tikus-tikus yang berseliweran telah menjadi bagian dari keseharian Nadia sejak menetap di Ibu Kota 1,5 tahun lalu.

Padahal tempat indekosnya berada di kawasan yang tidak tergolong kumuh. Jalannya lebar, cukup dilalui dua mobil berselisih, dengan saluran got di kedua sisinya. “Setiap kali jalan kaki, apalagi kalau ada got dan saluran air, selalu insecure ketemu tikus,” katanya.

Apalagi tikus-tikus itu kerap tergilas mobil hingga mati di tengah jalan dengan isi perut terburai. Hal itu membuatnya jijik. Bau busuk dari bangkai tikus pun bersaing hebat dengan bau yang menguar dari selokan jalanan.

“Ada got-got kecil yang baunya kayak bau bangkai tikus, belum lagi tercampur sama bau-bau lainnya kayak limbah industri rumahan. Kalau jalan kaki harus siap-siap tahan napas, atau pakai masker,” tuturnya.

Aulia, 25, warga Jalan Salam, Sukabumi Utara, kerap melihat got-got itu berisi sampah makanan. “Karena di situ ada rumah makan Padang buang limbah ke got. Lalu ada warteg sama juga begitu,” ungkapnya.

Begitulah wajah lain Jakarta yang beberapa hari lalu baru memboyong berbagai penghargaan Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)--penghargaan yang seharusnya diberikan kepada kota yang berhasil dalam bidang kebersihan serta pengelolaan lingkungan.

Ancaman kematian
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ali Maulana Hakim mengatakan perkembangan tikus got di Jakarta berpotensi terjadi di kawasan padat penduduk. Pola hidup masyarakat yang membuang sampah sembarangan menyumbang peran dalam pesatnya perkembangbiakan tikus got.

Padahal banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui tikus, baik melalui urine, gigitan, atau bahkan lewat gigitan kutu yang menempel di tubuh tikus. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menjelaskan penyakit yang disebabkan tikus, di antaranya penyakit leptospirosis, pes, salmonella enterica sarovar typhimurium, penyakit rat bite fever (RBF), dan hantavirus pulmonary syndrome.

Dua yang paling banyak berkembang di antara sederet penyakit itu ialah pes dan leptospirosis. Berbeda dengan kasus pes yang menurut catatan dinas kesehatan sudah tak terdengar lagi, leptospirosis justru masih membayangi warga Jakarta. Penyakit itu, ujar Koesmedi, menyebabkan panas tinggi secara mendadak, disertai luka nyeri di daerah betis serta mata yang menguning.

Sepanjang tahun ini hingga Juli, Dinas Kesehatan DKI mencatat ada 19 pasien leptospirosis. Selama dua tahun ke belakang, jumlahnya kian meningkat. Tahun sebelumnya terdapat 34 pasien, sedangkan pada 2016 ada 48 pasien mengidap penyakit yang dikenal sebagai penyakit kencing tikus itu.

“Gejalanya mereka tidak bisa buang air kecil, gagal ginjal, lalu meninggal, kalau tiga hari tidak terdeteksi. Bahkan, 55% kasus pada saat datang tidak terdapat demam,” kata dia. (Aya/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik