Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BATAVIA, awal abad ke-17, lalu lintas barang yang diangkut kapal-kapal kecil lewat aliran kanal semakin ramai seiring dengan geliat Pelabuhan Sunda Kelapa yang kian hidup. Berbagai hasil bumi dari pedalaman Batavia dengan mudah dipasarkan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sejak kanal-kanal itu berfungsi sebagai jalur angkut pada 1648.
Di masa itu pula, perbudakan sedang subur-suburnya di Batavia. Memiliki budak menjadi salah satu penanda strata sosial sehingga semakin banyak budak yang dimiliki, semakin penting posisi sang tuan dalam masyarakat. Para pemilik perkebunan kemudian memanfaatkan hal itu untuk membesarkan usaha mereka.
Perkebunan yang dikenal sebagai tanah partikelir itu umumnya luas dan memiliki rumah utama tempat para tuan tanah tinggal, dikenal sebagai landhuis. Untuk menggarap tanah itu, mereka menggunakan tenaga budak. Umumnya para budak diambil paksa dari berbagai daerah lain di Indonesia yang ditaklukkan VOC.
Di bagian selatan Batavia--lahan yang dibuka Belanda menjadi perkebunan tebu, budak-budak mulai didatangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa, dan Bali. Tebu ditanam sebagai komoditas utama sehingga Belanda butuh banyak sekali pekerja di sana. Mereka dipekerjakan secara berkelompok sesuai daerah asal.
“Nama Manggarai berasal dari tenaga kerja yang datang dari daerah NTT. Sama dengan adanya Kampung Jawa atau Kampung Bali di daerah Tanah Abang,” ujar sejarawan Restu Gunawan, pekan lalu.
Budayawan Rachmat Ruchiat menuturkan nama Manggarai diberikan kelompok penghuni awal, yaitu orang-orang dari Flores Barat. Penamaan itu diperkirakan terjadi sekitar 1770. Mereka lebih dulu datang dan menetap, baru kemudian menamai wilayah sebagai Manggarai. “Bukan tanpa sebab nama itu disematkan. Mereka ingin mengenang kampung halaman yang ditinggalkan,” bebernya.
Jejak lain yang menjadi bukti nama kelurahan di wilayah Jakarta Selatan itu terkait dengan Kabupaten Manggarai di NTT ialah keberadaan sebuah tarian.
Sebelum pecah Perang Dunia II, di kawasan itu berkembang sebuah tarian yang dikenal sebagai Tari Lenggo. Seiring dengan waktu tarian ini berkembang menjadi tari Betawi dengan nama Belenggo. Itu sebuah tarian yang berisi gerakan melangkah dan membungkuk, diiringi orkes berupa tiga rebana biang. Tarian serupa ada di Nusa Tenggara Timur dengan nama Tari Lenggo.
Jadi Pasar Rumput
Para budak datang ke wilayah itu melalui sistem pasar atau bursa. Para pemilik perkebunan memperjualbelikan mereka.
Restu Gunawan menyebut para budak yang bekerja di wilayah selatan Batavia itu terkait pasar jongos dan bedinde di Menteng Buurt (lingkungan Menteng).
Budayawan Betawi Ridwan Saidi mengatakan pusat perbudakan saat itu ialah sebuah pasar yang kini kita kenal sebagai Pasar Rumput di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan.
Seiring waktu, perbudakan berangsur sepi. Pasar tersebut tetap hidup meski yang diperjualbelikan sudah bukan manusia, melainkan pakan ternak jenis rumput.
“Dahulu alat transportasi masyarakat masih banyak yang menggunakan kuda, bukan seperti sekarang,” ujar Ridwan.
Delman memang menjadi transportasi utama masyarakat zaman itu. Tak hanya transportasi umum, masyarakat juga gemar memelihara kuda sebagai alat transportasi pribadi.
Penjualan pakan ternak pun menjadi bisnis yang menjanjikan. Pasar itu kemudian terkenal sebagai pusat penjualan pakan ternak sejak 1910 hingga puncaknya pada 1950-an. Dari sana pula lahir sebutan pasar rumput.
Dalam bukunya 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe, Zaenuddin HM menceritakan Pasar Rumput merupakan tempat perdagangan masyarakat Betawi yang menjual rumput untuk makan kuda hingga 1950-an. Bisnis rumput baru menghilang pada 1970-an seiring dengan perkembangan alat transportasi. (J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved