Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
ALUNAN lagu dangdut Sakit Gigi menemani pagi Shukria, 30, dan sekitar 30 pengungsi asal Afghanistan dan Somalia di Jalan Kebon Sirih 1, Jakarta Pusat, kemarin. Shukria baru saja membenahi tumpukan baju yang dibungkusnya dalam plastik hitam. Matras tipis alas tidurnya semalam tengah digulung. Tiga kemeja yang baru dicucinya diperas dan dibentangkan di tali sepanjang 1 meter.
Sesekali Shukria membetulkan letak kerudung merah marunnya. Ia terlihat menikmati alunan musik yang diputar salah satu penjaga warung yang ada di sekitar tempat itu. Empat anak kecil Afghanistan yang sudah terbangun sejak pukul 05.00 WIB riang bermain sambil menggendong boneka dan bekejar-kejaran tanpa alas kaki.
Pengungsi lain, pria dan wanita dewasa, lesehan di tenda atau teras rumah warga sembari berbincang dengan bahasa mereka, sembari menikmati sarapan nasi bungkus pemberian sukarelawan.
Mereka merupakan korban perang Afghanistan yang sedang menanti surat suaka dari United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) atau organisasi PBB yang mengurus para pengungsi. Mereka bertahan di Ibu Kota dengan bermodalkan terpal atau kelambu yang dibuat seadanya.
“Allhamdulillah, pagi yang cerah. Kalau hujan datang, kami harus duduk semalaman tidak bisa tidur,” ujarnya. Sudah dua bulan Shukria bersama tiga saudara dan ibu kandungnya tinggal dan bertahan hidup di jalanan Jakarta.
Mereka berangkat dari negaranya menuju Malaysia dan diteruskan ke Indonesia. Mereka sebenarnya ingin menetap di Australia. Namun, hingga kini surat suaka yang dibutuhkannya belum kunjung didapat.
“Kami tahu kami ilegal, tapi kami harus meneruskan hidup kami. Kami juga tidak punya uang hanya bermodalkan belas kasihan orang yang memberikan kami makan dan alas tidur,” imbuhnya
Dia dan sekitar 30 pengungsi lain mengaku tidak punya pilihan selain tinggal dan bertahan di pinggir jalan. Keinginan untuk mengontrak rumah di Jakarta harus dikuburnya dalam karena tidak ada biaya. “Alhamdulilah selama ini kami tidak pernah diusir petugas keamanan atau menerima kekerasan,” terangnya
Lebih miris yang dialami Ali Akbar, 35, pengungsi Afghanistan lainnya. Dia telah bertahan di Jakarta selama empat tahun menunggu surat suaka yang diinginkannya. Selama itu juga dirinya terus tinggal di tepi Jalan Kebon Sirih 1. (Sri Utami/J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved