Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
"DIPILIH... dipilih... dipilih... Baru... seken.... Dua lima saja! Dua lima! Giordano! Silakan, Bang... Kak.... Boleh... boleh... dipilih... dipilih," teriak para pedagang dengan logat khas Sumatra Barat sambil menepuk-nepuk barang dagangan.
Suara mereka bergaung seperti tim paduan suara.
Pedagang satu dengan yang lain saling membalas, berlomba memasarkan dagangan, tanpa rasa marah, apalagi emosi dalam persaingan.
Sebagian lagi merekam suara ke dalam kaset. Tinggal putar langsung teriak otomatis.
"Begitulah suasana Blok M Mall pada era 90-an. Suasananya riuh, bising, tetapi menggoda untuk berbelanja. Terkadang saya rindu mendengar suara para pedagang dulu. Kantor saya dekat Blok M sini dan pulang kantor suka keliling-keliling dulu sebelum pulang naik bus," tutur Satria, karyawan swasta, kemarin.
Letak Blok M Mall yang berada di bawah terminal bus dan dipadukan dengan taman kota membuatnya jadi mal paling unik di Indonesia.
Di dalamnya terdapat area pertokoan, lobi terminal, area parkir gedung, emplasemen, dan plaza.
Ada 300 toko yang menjual berbagai macam perlengkapan, mulai fesyen, makanan, minuman, perhiasan, jam tangan, elektronik, parfum, dan banyak lagi.
Tempat di kawasan Jakarta Selatan itu juga tongkrongan gaul para ABG.
Janganlah heran kalau Blok M Mall menjadi salah satu ikon Jakarta pada era 90-an.
Mobil mewah dari berbagai jenis menghiasi parkir. Pemiliknya om-om dan tante-tante tertawa-tawa dengan para ABG.
Bentuk modern dengan eskalator serta pendingin ruangan membuat pengunjung betah berlama-lama.
Sekitar 150 ribu orang datang setiap hari.
Tak jarang untuk berjalan di sepanjang lorong mal memerlukan kesabaran karena padatnya.
Siapa nyana kejayaan Blok M Mall kini diambang kehancuran.
Proses tawar-menawar dan keriuhan para pedagang menawarkan berbagai macam produk internasional tak terdengar lagi. Blok M dalam kesunyian. Lorong-lorong sepi pengunjung.
Penataan para pedagang semrawut. Sudut-sudut bangunan gelap membuat takut jika berjalan sendirian. Pedagang hanyut dalam buaian ponsel untuk membunuh kebosanan menunggu pengunjung yang tak jua mampir.
Bambang, pedagang jam yang sudah berjualan di tempat itu selama 17 tahun, mengaku omzetnya turun 75% karena sepi pengunjung.
Dari tahun ke tahun penghasilan para pedagang terus menurun.
"Dulu di sini ramai. Setiap hari penuh pembeli. Paling tidak sehari ada 100 orang yang berbelanja ke toko saya. Kalau sekarang ada 20 saja, itu sudah sangat ramai dan saya bersyukur sekali," tutur Adek, 60, pedagang pakaian yang sudah buka toko sejak Blok M Mall dibuka 30 tahun lalu.
Dulu, ketika kurs dolar AS masih Rp2.300, ia sudah bisa mengantongi Rp5 juta per hari.
Saat ini, ketika kurs dolar sudah Rp13.300, mendapat Rp2 juta saja per hari teramat susah.
Para pedagang berharap pemerintah bersedia berkoordinasi dengan pengelola agar Blok M kembali memiliki daya pikat.
"Situasi sekarang sudah sekarat, pedagang akan semakin banyak gulung tikar," imbuh Adek.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved