Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Prit... Prit... ketika Mereka Beraksi bak Juru Parkir

02/8/2017 09:04
Prit... Prit... ketika Mereka Beraksi bak Juru Parkir
(ANTARA/Rivan Awal Lingga)

SEBUAH mobil Terios hitam menepi di depan toko Mawar Sari Bakery di Jalan Raya Harapan Kita, Karawaci, Kota Tangerang, siang itu. Seorang penumpang keluar dari mobil, memasuki toko. Tidak sampai 10 menit ia kembali memasuki mobil yang sejak tadi menunggu dengan keadaan mesin menyala bersama sang pengendara di dalamnya.

“Prit... prit... ” seketika bunyi peluit terdengar. Seorang pria yang mengenakan rompi bertuliskan nama ormas mendekati mobil. Ia mengambil peran sebagai juru parkir, meminta uang parkir.

“Tapi kan enggak parkir, Pak,” ujar sang pengendara setelah membuka kaca mobil, tanda keengganannya membayar uang parkir.

Namun, karena telanjur membuka kaca, tak terhindarkan omelan sang juru parkir dadakan itu terdengar oleh si pengandara. Selembar uang Rp2.000 pun akhirnya diserahkannya sebagai semacam iuran parkir.

Parkir liar di Kecamatan Karawaci memang menjamur di mana-mana. Depan deretan pertokoan dan warung di kawasan pemukiman salah satu yang paling banyak parkir liar. Kendaraan yang hanya berhenti sejenak pun tak lolos pula dari pungutan biaya dari para juru parkir liar.

Bagi para pengendara, parkir di bahu jalan mereka pilih karena tidak ada opsi lain. “Begitu datang sudah ada yang mengatur pakai periwitan, kita kan enggak tahu mau parkir di mana, ya, akhirnya ikut saja apa kata tukang parkirnya,” ujar Zaki, warga Cipondoh, Kota Tangerang.

Namun, terlepas dari peran mereka mengatur kendaraan, para juru parkir liar itu dinilainya sering kali berperilaku seenaknya sendiri.

Hal serupa diungkapkan Aan, warga Curug, Kabupaten Tangerang. Menurutnya, kebanyakan juru parkir itu hanya muncul ketika kendaraan datang, lalu ketika meninggalkan lokasi untuk meminta uang. “Tapi kendaraan tidak benar-benar dijaga,” keluhnya.

Pengalaman buruk pernah dialami Aan ketika parkir di Jalan Maulana Yusuf, Babakan, tepatnya di depan Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis) Kota Tangerang.

“Pas saya mau pulang, saya lihat bagian belakang mobil saya hancur karena kesenggol mobil lain. Mereka tidak ada mau yang tanggung jawab. Begitu saya tanya dan cari juru parkirnya yang tadi, dia tidak ada,” papar Aan.

Padahal, menurutnya, tak hanya satu orang yang mengatur parkir di daerah tersebut. Sebagian besar, menurut Aan, ialah warga yang tinggal di sekitar jalan itu.

“Tapi kalau ada kejadian begitu, tidak satu orang pun yang muncul. Cuma mau kalau terima uang saja,” imbuhnya.

Di sepanjang Jalan TMP Taruna, para pemilik warung dibuat resah dengan kehadiran para juru parkir liar. Deretan kendaraan yang parkir sembarangan itu dirasakan mengganggu usaha mereka.

“Semua kendaraan bisa parkir di depan warung saya sehingga mengganggu datangnya konsumen. Warung jadi terhalangi,” kata Rosminah, salah satu pedagang makanan di sana.

Bahkan, kata dia, jika ada konsumen yang pesan makanan untuk dibungkus dan parkir sebentar saja di depan warung, tetap dimintai uang oleh juru parkir liar itu.

“Walaupun pembelinya tidak turun dan tetap menunggu di dalam mobil, tetap saja mereka mintai uang. Lama-lama orang bisa malas belanja di wa­rung saya,” keluhnya. (Sumantri/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya