Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Ada Dugaan Kecurangan PPDB di Bekasi, Sejumlah NEM Siswa Berubah

Gana Buana
06/7/2017 20:03
Ada Dugaan Kecurangan PPDB di Bekasi, Sejumlah NEM Siswa Berubah
(MI/BARY FATHAHILAH)

SEJUMLAH orang tua siswa SD mengeluh lantaran ada perbedaan nilai ujian nasional (UN) antara yang didapat dari sekolah dan yang tercantum di online pada proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Bekasi, Jawa Barat. Akibatnya, banyak calon peserta didik baru yang batal masuk sekolah yang dituju.

Fitri, 35, warga Pesona Anggrek, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara kecewa saat mengetahui nilai anaknya Devina Ridwan berkurang. Padahal, anaknya membidik SMP Negeri 25 sebagai sekolah jenjang lanjutnya.

Dari sekolah asalnya, SDIT Al Muchtar Bekasi, nilai Devina dinyatakan sebesar 23,1. Namun saat dia lihat PPDB secara online di SMPN 25 Bekasi, nilainya justru turun menjadi 19,9. "Saat dicek Nama dan NIKnya sama, namun nilainya berbeda," kata Fitri, Kamis (6/7).

Atas kejadian ini, Fitri mengaku bingung dan tidak tahu apa yang akan diperbuat untuk kelanjutan sekolah anaknya. Sebab sang anak batal daftar di sekolah yang dituju karena nilainya menjadi kecil. Apalagi kejadian ini membuat mental sang anak menjadi down.

Fitri berharap agar kejadian seperti ini tidak sepantasnya terjadi. Berdasarkan informasi yang diperoleh, ada beberapa orangtua melakukan protes serupa karena nilai yang diperoleh berubah antara yang didapat dari sekolah dengan di online. "Sistem ini harus diperbaiki, jangan sampai orangtua dirugikan," imbuhnya.

Di antara orang tua yang mengaku kecewa itu juga menyatakan dari kasak kusuk yang di dengar memang ada permainan di panitia PPDB online. Dengan menurunkan NEM siswa membuka peluang siswa lain yang nilainya lebih rendah diterima di sekolah-sekolah yang dituju. "Dinas Pendidikan harus menghentikan praktek curang ini," ujar orang tua siswa yang enggan disebut namanya

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Inayatullah saat dikonfirmasi mengaku, masih mencari tahu adanya perbedaan besaran nilai yang dialami oleh lulusan SD. Namun dia memastikan bahwa nilai yang betul adalah nilai yang dilihat di online. Sebab, nilai tersebut langsung dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Bekasi.

Sementara nilai yang diprint out atau dicetak pihak sekolah, kemungkinan ada kesalahan dalam proses pengetikan. Meski begitu, pihaknya tetap mencari tahu penyebab adanya kesalahan itu. Agar kejadian serupa tidak terulang kembali. "Bidang Pendidikan Dasar akan mengecek nilainya, setelah itu baru ketahuan yang mana yang salah," pungkasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik