Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
POLISI mengincar empat orang lainnya dari komplotan perampok di SPBU Jembatan Panjang, Daan Mogot, Jakarta Barat. Mereka diduga berpencar melarikan diri seusai membagi hasil perampokan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan menuturkan jumlah komplotan pelaku mencapai 11 orang. Mereka berbagi peran, meski saat eksekusi hingga menewaskan korban Davidson Tantono hanya dua orang yang muncul.
Uang hasil perampokan kemudian mereka bagi, masing-masing mendapat sekitar Rp14 juta. Uang tersebut ada pula yang digunakan untuk membeli motor, televisi, dan lain-lain. Sisanya lagi digunakan untuk biaya operasional mereka yang mencapai Rp37,5 juta. Biaya operasional itu mencakup sewa kendaraan, sewa apartemen, dan lain-lain.
"Jadi DPO ada empat orang. Kami kejar untuk menuntaskan semua pelaku yang terlibat di Cengkareng ini," kata Iriawan di Markas Polda Metro Jaya, kemarin.
Komplotan ini telah 23 kali melancarkan aksi perampokan. Namun, baru kali ini aksi mereka menyebabkan korban tewas. Beberapa dari pelaku juga merupakan residivis. Salah satunya ialah kapten dari komplotan ini, SFR, yang ditembak mati polisi saat penangkapan karena melawan.
Komplotan berpencar melarikan diri ke sejumlah daerah. Ada yang menuju Lampung, Bogor, hingga ke Bali melalui Banyuwangi. Sementara pelaku yang berperan menggembosi ban mobil Davidson mengaku melakukan aksinya saat di lampu merah menggunakan sendal yang telah dipasangi paku.
Salah seorang tersangka, RCL, yang merupakan kekasih dari kapten komplotan SFL, mengaku terpaksa ikut SFL melarikan diri setelah aksi perampokan. Ia sempat menolak, tapi kemudian diancam SFL.
"Ke Banyuwangi, pertama saya menolak ikut dia. Tapi saya terpaksa. Karena diancam suruh ikut, jangan mau enaknya doang. Saya terpaksa ikut," kata RCL.
RCL sendiri mengenal SFL saat menjadi seorang pemandu lagu di salah satu tempat karaoke di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. "Kenal di karaoke," kata RCL.
RCL berperan menyewakan apartemen untuk SFL dan rekan-rekannya di kawasan Jakarta Timur. Penyewaan dilakukan menggunakan identitas dirinya lantaran SFL tidak memiliki KTP DKI Jakarta. Namun, ia mengaku tidak mendapat jatah khusus dari hasil perampokan tersebut.
Ia juga menyatakan menyesal telah terlibat dalam komplotan perampok ini. "Saya menyesal kenapa saya sebodoh itu tidak tahu risikonya seperti ini," kata RCL lirih. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved