Senin 31 Januari 2022, 05:15 WIB

Aspek Sosial di Balik Penyebaran Covid-19

Muhammad Miftahussurur Wakil Rektor dan Dosen FK Unair Bagong Suyanto Dekan FISIP Unair | Kolom Pakar
Aspek Sosial di Balik Penyebaran Covid-19

MI/Seno

 

MESKI sudah dua tahun lebih, ancaman covid-19 ternyata tak kunjung usai. Memasuki awal 2022, kasus covid-19 masih terus bermunculan di berbagai daerah. Ada indikasi pada Februari dan Maret 2022 nanti, kasus covid-19 akan kembali meningkat.

Di Indonesia, penambahan kasus covid-19 terjadi karena praktik pelanggaran protokol kesehatan, seperti kemunculan keramaian dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan social distancing.

Selain itu, ditengarai penambahan kasus covid-19 juga terjadi karena konstruksi sosial masyarakat terhadap ancaman covid-19 belum tumbuh dengan baik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang menganggap covid-19 bukan sebagai virus yang berbahaya (Matthewman & Huppatz, 2020).

Hasil studi di lima kota/kabupaten dengan jumlah kasus covid-19 tertinggi di Provinsi Jawa Timur, yakni Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Pasuruan, diketahui konstruksi sosial yang berkembang di benak masyarakat tentang ancaman covid-19 tidak selalu sama. Tidak semua masyarakat mengonstruksi covid-19 ialah virus yang benar-benar berbahaya.

Dari hasil wawancara terhadap 500 responden, diketahui tidak sedikit masyarakat yang menganggap covid-19 tidak berbeda dengan penyakit yang lain, seperti demam, flu, batuk, dan lain-lain yang biasa--bukan virus yang benar-benar mematikan.

 

Hyper reality

Studi yang dilakukan tim Universitas Airlangga menemukan, sebanyak 62,8% responden merasa pemberitaan tentang covid-19 di media massa terlalu dibesar-besarkan. Hanya 37,2% responden yang menyatakan pemberitaan tentang covid-19 sudah benar karena memang berbahaya. Sebagian besar responden, tampaknya menilai heboh pemberitaan di media massa tentang covid-19 hanyalah hyper reality, yang menakut-nakuti sebagian masyarakat yang percaya.

Seperti hasil studi Ohme et al (2020), studi ini menemukan responden umumnya mengaku memperoleh informasi tentang covid-19 dari media sosial. Akibat sumber pemberitaan yang tidak jelas kredibilitasnya, membuat sebagian responden merasa bahwa pemberitaan tentang bahaya covid-19 sering kali terlampau dibesar-besarkan dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Dari hasil indepth interview, diketahui bahwa sebagian responden menganggap pemberitaan tentang bahaya penularan covid-19, proses pemakaman korban covid-19 yang begitu ketat, kewajiban menjaga jarak, dan lain sebagainya, terlampau dibesar-besarkan.

Dalam kenyataannya, pandemi covid-19 sebetulnya telah terbukti banyak membawa korban jiwa. Namun, bagi kebanyakan responden, kunci mengatasinya pada cara mereka menjaga kesehatan. Studi ini menemukan, sekitar separuh responden (50,4%) menyatakan sepanjang mereka menjaga kesehatan, diyakini tidak akan tertular. Sebanyak 24,4% responden menyatakan meskipun terkena covid-19, asalkan ditangani secara medis akan bisa disembuhkan. Bahkan, ada 7,8% responden yang menyatakan covid-19 sebetulnya bukan virus yang berbahaya. Hanya 17,4% responden yang percaya bahaya covid-19 dan meyakini jika tidak segera ditangani, korban pasti meninggal.

Selama ini, mekanisme adaptasi yang dikembangkan responden agar terhindar dari ancaman covid-19, sebagian besar ialah dengan selalu mengenakan masker (65,5%). Sebanyak 24,4% responden mengaku sering menggunakan masker. Jika dibandingkan dengan protokol kesehatan yang lain, mengenakan masker umumnya yang paling banyak dilakukan sebagian besar responden. Di benak kebanyakan responden, covid-19 ialah virus yang penularannya melalui udara, yang akan berisiko menyebabkan seseorang menjadi korban kalau menghirup virus ini. Dengan memakai masker, sebagian besar responden merasa sudah cukup efektif untuk menangkal risiko kemungkinan tertular covid-19.

Hasil studi ini tidak berbeda dengan studi yang dilakukan Pan (2020) di Tiongkok. Hasil studi Pan yang mengkaji khusus kalangan siswa menemukan, 75,53% siswa menganggap bahwa memakai masker saat pergi ke luar akan menjadi wajib dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri, bahkan ketika epidemi telah terkendali dan menghilang. Pentingnya penggunaan masker sesuai dengan perasaan siswa tentang penularan covid-19. Dalam hal ini, 82,98% siswa takut dengan kejadian darurat kesehatan masyarakat ini dan 52,13% dari mereka memilih untuk tidak pergi ke Provinsi Hubei atau kota lain, tempat pandemi covid-19 benar-benar menjadi persoalan serius.

Untuk cuci tangan, studi ini menemukan tidak lebih dari separuh (48,4%) responden yang selalu melakukannya. Sebanyak 39,6% responden mengaku sering mencuci tangan. Demikian pula dalam penggunaan hand sanitizer, hanya 32,2% responden yang selalu melakukannya dan 28,4% responden mengaku sering menggunakan hand sanitizer.

Dari 500 responden yang diteliti, hanya 20,6% yang mengaku selalu berusaha menghindari kerumunan. Sebanyak 24,6% responden yang mengaku selalu minum vitamin atau suplemen dan 17,8% responden yang rajin berolahraga. Sebanyak 35,8% responden mengaku jarang, bahkan 15,4% responden mengaku tidak pernah berolahraga. Jika dibandingkan dengan perempuan, laki-laki umumnya lebih meremehkan bahaya covid-19 dan kaum laki-laki umumnya lebih enggan bermasker dan mencuci tangan (Umamaheswar & Catherine, 2020).

Ketika berkunjung ke tempat publik dan banyak orang tidak memakai masker, sebanyak 9,2% responden memang mengaku takut sekali dan 33,4% mengaku takut. Namun, sebanyak 41% responden mengaku biasa saja, bahkan 10,2% mengaku tidak takut. Dari 500 responden, 6,2% responden mengaku sama sekali tidak takut ada di kerumunan--meski sebagian besar orang tidak memakai masker. Sejumlah responden menyatakan, yang terpenting ialah mereka memakai masker. Persoalan orang lain memakai masker atau tidak, tergantung pada kesadaran orang lain dan tidak bisa dipaksakan.

 

Keluarga dan tempat kerja

Dalam keluarga, kepedulian sesama anggota keluarga untuk selalu mengingatkan bahaya covid-19 sebetulnya sudah terbangun cukup baik. Dari 500 responden, 48% responden mengaku selalu diingatkan keluarga untuk menjaga diri dari ancaman covid-19. Sebanyak 30,8% responden mengaku sering diingatkan dan hanya 5,4% responden yang mengaku tidak diingatkan keluarga tentang bahaya covid-19.

Dari anggota keluarga yang ada di rumah, ibu ialah sosok yang paling sering mengingatkan bahaya covid-19 (47%). Setelah itu, baru sosok ayah (23,8%). Di luar ayah dan ibu, sosok yang sering mengingatkan bahaya covid-19 ialah saudara. Selama pandemi covid-19, ibu tampaknya memiliki peran sentral dalam upaya pencegahan agar anggota keluarganya tidak terkena covid-19.

Studi yang dilakukan Landivar et al (2020) menemukan, peran dan beban ibu tidak hanya makin bertambah selama pandemi covid-19, tetapi juga makin berisiko. Tidak sedikit ibu yang kehilangan pekerjaan dan terpaksa menjalani kehidupan yang lebih buruk selama pandemi covid-19 (Zoch, Bachmanna & Vicari, 2020).

Berbeda dengan habitus di rumah, yang kesadaran tentang bahaya covid-19 cukup terbangun dengan baik, di lingkungan tempat kerja ternyata belum banyak teman kerja atau teman kuliah responden yang peduli terhadap bahaya covid-19. Studi ini menemukan, sebanyak 40% menyatakan banyak teman kerja atau teman sekolah yang peduli bahaya covid-19. Namun, sebanyak 21,8% responden mengaku hanya sebagian kecil teman mereka yang peduli. Bahkan, ada 5,4% responden yang mengaku tidak ada teman mereka yang peduli. Sebanyak 32,8% menyatakan hanya sekitar separuh yang peduli.

 

Literasi kesehatan

Sebagian besar responden (78%) umumnya sadar akan bahaya covid-19 dan berusaha menghindari dengan ikhtiar sesuai dengan protokol kesehatan. Namun, ada 19,2% responden yang menganggap covid-19 sebagai hal yang biasa, kalaupun meninggal dunia hal itu dianggap memang sudah takdirnya. Sebanyak 2,8% responden bahkan mengaku tidak takut dengan covid-19. Cara berpikir yang dogmatis seperti inilah yang membuat sebagian responden tidak terlalu percaya bahaya covid-19 dan menganggap persoalan kematian adalah bagian dari garis tangan yang tidak bisa ditolak.

Upaya pemerintah untuk mengurangi risiko penyebaran covid-19 dengan mengeluarkan Inpres No 6 Tahun 2020, yang ingin memastikan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan secara ketat, dalam penilaian sebagian besar responden memang sudah seharusnya dilakukan (59,6%). Namun, dari 500 responden yang diwawancarai, sebanyak 40,2% responden menilai Inpres No 6 Tahun 2020 terlalu berlebihan, bahkan ada 0,2% responden yang menyatakan tidak perlu ditaati.

Melihat cara pandang dan sikap masyarakat yang menganggap covid-19 bukan hal yang terlalu meresahkan, menangani ancaman covid-19 ke depan yang dibutuhkan tak pelak ialah bagaimana menyadarkan masyarakat akan bahaya covid-19. Lebih dari sekadar melakukan sosialisasi, yang tak kalah penting ialah bagaimana mendekonstruksi dan merekonstruksi cara pandang baru masyarakat yang memiliki literasi kesehatan yang baik.

Baca Juga

MI/Seno

Menakar Optimisme Pelaku Industri Perbankan Nasional

👤Ryan Kiryanto Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan 🕔Senin 09 Mei 2022, 05:15 WIB
MENARIK mencermati hasil survei Bank Indonesia (BI) tentang rencana ekspansi kredit perbankan yang dipublikasikan belum lama...
MI/Seno

Berlebaran sambil Mewaspadai Varian XE

👤Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim 🕔Senin 25 April 2022, 05:00 WIB
SETELAH dua tahun tidak merayakan Lebaran karena pandemi, akhirnya sepekan lagi umat Islam akan bisa merayakan Idul Fitri...
MI/Seno

G-20 dan Kebijakan Aset Digital

👤Agus Sugiarto Kepala OJK Institute 🕔Senin 18 April 2022, 05:00 WIB
ERA digitalisasi, yang telah berjalan selama ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap lahirnya jenis aset baru, yaitu aset-aset...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya