Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Dunia Suarakan Keadilan Iklim

Richaldo Y Hariandja
29/11/2015 00:00
Dunia Suarakan Keadilan Iklim
(AP/ANTHONY ANEX)
PERUBAHAN iklim yang mengancam kelangsungan kehidupan membuat warga seluruh dunia beraksi. Warga di hampir 200 negara secara bersama-sama menggelar aksi global untuk Keadilan Iklim 2015, kemarin.

Aksi global untuk Keadilan Iklim 2015 dilakukan jelang Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) ke-21 United Nation Framework on Climate Change (UNFCCC/Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Paris, Prancis, 30 November hingga 11 Desember nanti.

Di Jakarta, aksi global untuk Keadilan Iklim 2015 dilangsungkan di Bundaran Hotel Indonesia. Hal serupa juga berlangsung di Dhaka, Bangladesh, Manila, Filipina, Tokyo, Jepang, serta penjuru dunia lainnya. Salah satu tuntutan ialah pembatasan kenaikan suhu global 1,5 derajat celsius (C).

"Benang merah dari aksi global untuk Keadilan Iklim yang dilaksanakan hampir di 200 negara secara bersamaan ialah meminta mereka yang bernegosiasi di COP 21 sepakat membatasi kenaikan suhu bumi sampai 1,5 C karena jika 2 C itu tidak akan cukup untuk menahan kerusakan lebih lanjut bumi," kata juru kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Edo Rakhman di Jakarta, kemarin.

Setelah COP 20 di Peru tidak membuahkan hasil apa pun, pertemuan di Paris sangat menentukan iklim global dan masa depan bumi. "Di Peru tidak menghasilkan apa-apa karena negara-negara Annex I (negara-negara maju), II, dan III tetap pada pendirian mereka. Kita menuntut keadilan iklim agar bumi bisa bertahan," ujar dia.

Karena itu, ia mengatakan masyarakat sipil dunia bergabung menuntut para pemimpin dunia dan negosiator COP 21 untuk mencapai kesepakatan perjanjian global yang adil.

Jangan sekadar hadir

Publik figur Melanie Subono yang akan ikut dalam Aksi Global untuk Keadilan Iklim 2015 di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI) mengatakan delegasi Republik Indonesia jangan hanya hadir di COP 21.

Harapannya ada hasil konkret dan dilaksanakan apa yang telah menjadi kesepakatan. "Negara ini bisa bagus, cantik tentu memang tidak mudah. Yang penting apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai itu dilaksanakan, karena imbas perubahan iklim tidak cuma sampai ke alamnya saja, tapi juga manusianya," jelas Melanie.

Melanie menekankan dampak perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya berhenti di pemerintah. Apa pun yang akan dihasilkan di COP 21 Paris, ia berharap tidak untuk kepentingan bisnis belaka.

Perwakilan Global Catholic Climate Movement (GCMM) Romo Paul mengatakan pemerintah harus transparan dalam penanganan perubahan iklim. Karena apa yang dikerjakan sebelumnya, yakni menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) 26% pra-2020, tidak terdengar gaungnya.

Di bagian lain, Menlu Retno LP Marsudi dan Presiden Joko Widodo akan menghadiri COP 21 di Paris, Prancis, pada 30-31 November 2015. Presiden dijadwalkan tiba di Paris, Minggu (29/11) malam, waktu setempat.

Sebagai tuan rumah, Prancis telah menyiapkan pengamanan ketat gelaran COP 21 dengan mengerahkan 110 ribu personel keamanan. Sedikitnya 130 negara menyatakan bakal hadir di Paris. Indonesia mengirim sedikitnya 415 delegasi, termasuk 60 anggota tim negosiasi. (N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya