KETEGANGAN hubungan antara Turki dan Rusia pascainsiden penembakan pesawat tempur Sukhoi SU-24 milik Moskow oleh armada militer Ankara terus menggelinding. Presiden Vladimir Putin menuntut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta maaf atas insiden itu. Sebelumnya, tak lama setelah insiden penembakan jatuh Sukhoi SU-24 oleh jet tempur F-16, pemimpin Kremlin menyebut Turki menikam Rusia dari belakang. Bahkan Putin dengan terbuka menuduh pemerintah di Ankara sebagai kaki-tangan teroris. Baru-baru ini, seperti dilaporkan Russia Today, Kamis (26/7), Putin menuduh Turki sengaja membawa hubungan dengan Rusia menjadi 'buntu'.
"Kami masih belum mendengar permintaan maaf dari para pemimpin politik Turki atau tawaran apa pun untuk menebus kerugian yang ditimbulkan atau menjanjikan untuk menghukum para penjahat atas kejahatan mereka," kata Presiden Rusia. Pemimpin 'Negeri Beruang Merah' itu juga menekankan bahwa langkah pasukan udara Turki menembak pesawat Rusia bertentangan dengan 'akal sehat dan hukum internasional' karena itu dilakukan saat pesawat berada di atas wilayah Suriah. Di sisi lain, Presiden Erdogan mengatakan negaranya tidak akan meminta maaf atas aksi menembak jatuh pesawat Rusia. Ia menyatakan Ankara telah bertindak sesuai hukum internasional dan aturan pelibatan, dan pihaknya berhak menindak setiap ancaman yang melanggar perbatasan negara.
"Saya pikir jika ada pihak yang perlu meminta maaf, itu bukan kami," tegas Erdogan kepada CNN, sembari menekankan, "Orang-orang, yang melanggar wilayah udara kami ialah pihak yang perlu meminta maaf." Yang tampaknya mengarah kepada Rusia. Erdogan mengakui telah berusaha menghubungi Putin, tetapi panggilan teleponnya tidak direspons pemimpin Rusia. "Kita harus membicarakan apa yang terjadi, tapi Putin tidak menjawab panggilan telepon saya." Terpisah, Turki, Kamis (26/11), memanggil duta besar Rusia untuk Ankara menyusul aksi demonstrasi yang berlangsung di luar Kedutaan Turki di Moskow. Turki menyebut aksi protes yang diwarnai kekerasan itu sebagai sesuatu yang 'tidak dapat diterima'.
Sasar ekonomi Rusia, Kamis (26/11), berjanji akan mengambil tindakan keras terhadap perekonomian Turki untuk membalas insiden penembakan pesawat tempur Sukhoi SU-24. Perdana Menteri (PM) Rusia Dmitry Medvedev telah memberikan tenggat dua hari kepada para menterinya untuk memberlakukan sebuah 'sistem tindakan respons' di bidang ekonomi dan kemanusiaan. Dia mengatakan proyek-proyek ekonomi yang dijalankan bersama Turki bisa dihentikan. Moskow juga akan membatasi transaksi keuangan dan perdagangan dan mengubah bea masuk.
Tindakan itu bisa menargetkan sektor transportasi dan pariwisata. Putin telah menyerukan kepada warga Rusia untuk tidak melakukan perjalanan ke Turki, tujuan wisata yang sangat populer untuk orang-orang Rusia. Rusia juga akan memperketat kontrol untuk impor makanan Turki atas tuduhan pelanggaran standar keselamatan.