Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pabrik Roboh,Puluhan Terjebak

(AFP/Aya/I-2)
06/11/2015 00:00
Pabrik Roboh,Puluhan Terjebak
(AFP)
SETIDAKNYA 19 orang tewas dalam insiden robohnya pabrik tas poliester di kawasan industri Sundar, sekitar 45 km barat daya dari pusat Kota Lahore, Pakistan, kemarin. Di hari yang sama, tim penyelamat mengevakuasi lebih dari 100 orang dari reruntuhan pabrik tersebut. Namun, masih ada beberapa orang yang terperangkap di balik reruntuhan mengingat ada sekitar 150-200 orang di dalam pabrik saat kejadian berlangsung. Juru bicara tim penyelamat Jam Sajjad Hussaid mengakui timnya kesulitan memastikan jumlah pekerja yang berada di pabrik.

Seorang pekerja menyebut ada 200 orang di dalam pabrik, termasuk pemilik pabrik meski hal itu belum terkonfirmasi. "Penyelamatan sedang berlangsung dan saya khawatir jumlah korban tewas akan bertambah," kata Hussaid. Meski tim penyelamat menggunakan teknologi audio dan video dalam proses pencarian, tim penyelamat masih harus menggunting besi dan menggunakan crane untuk mengangkat puing-puing bangunan untuk mencari korban selamat. Bahkan, tim medis terpaksa mengamputasi salah satu kaki seorang pria di tempat kejadian sebelum melarikannya ke rumah sakit.

Di luar tempat kejadian, keluarga korban berupaya menerobos masuk ke lokasi. Namun, polisi dan tentara menahan mereka. "Saya harus ke sana, bahkan jika mereka mau menembak saya," seru salah seorang kerabat korban. Diperkirakan, gedung pabrik mengalami kerusakan struktural akibat gempa 26 Oktober 2015 lalu yang menewaskan hampir 400 orang di Pakistan dan Afghanistan. Meski demikian, pemilik pabrik berkeras menambah jumlah bangunan. "Beberapa pilar gedung sudah rapuh akibat gempa," kata salah seorang pekerja bernama Mohammad Navid, 22.

Ia mengaku telah mengeluhkan hal itu kepada pemilik gedung. Navid bercerita terdengar suara dentuman keras saat pabrik runtuh. Ia tak sadarkan diri selama 15 menit. "Saya dengar orang berteriak dan meminta tolong." Ironisnya, menurut penuturan Mohammad Irfan, 18, yang tengah terbaring di rumah sakit, kebanyakan pekerja di pabrik itu berusia 14 hingga 25 tahun. Hal itu diamini Kepala Dokter Zia Ullah di Rumah Sakit Jinnah.
Ia mengatakan kebanyakan korban di bawah umur.

Mereka menderita luka di kepala dan anggota badan retak. Pakistan memiliki rekam jejak keselamatan yang rendah disebabkan konstruksi dan perawatan gedung yang buruk. Setidaknya 24 orang tewas dalam insiden runtuhnya masjid tahun lalu di Lahore. Pada 2012, sebanyak 225 pekerja tewas saat terjadi kebakaran di pabrik pakaian di Karachi. Pengadilan menyatakan serangkaian kecelakaan itu terjadi akibat kurangnya pintu darurat, pelatihan pekerja yang buruk, serta kegagalan peran pemerintah mendeteksi hal itu lebih dini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya