Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pemilu Kali ini Diharap Jadi Game-Changer

(AFP/Andhika Prasetyo/I-3)
05/11/2015 00:00
Pemilu Kali ini Diharap Jadi Game-Changer
(AFP)
PEMILIHAN umum (pemilu) Myanmar akan digelar Minggu (8/11) mendatang. Pesta demokrasi yang tinggal tiga hari itu juga akan menjadi hal yang sangat krusial bagi sebagian warga 'Negeri Tanah Emas'. Para pengawas dan pemantau pemilu merasakan hal serupa. Pemilu kali ini diharap berjalan aman, jujur, dan adil. Selain sebagai pengawas pemilu, mereka memiliki hak pilih. Masalahnya, sebagian besar pengawas pemilu tersebut ternyata belum pernah mengikuti pemungutan suara sama sekali. Ketua tim pengawas pemilu, Sai Ye Kyaw Swar Myint, 38, termasuk orang yang masih 'hijau' dalam dunia pemilu.

"Saya sendiri tidak pernah memiliki pengalaman berada di dalam bilik suara. Ini gila kan," ujar Swar Myint. Swar Myint pernah menjadi saksi pelaksanaan pemilu 1990 dan 2010. Namun, saat pelaksanaan Pemilu 1990, usia Swar belum mencukupi syarat sebagai pemegang hak suara. Seandainya ketika itu, Swar atau akrab disapa Ko Sai itu turut menyalurkan hak pilihnya, tetap saja politik negaranya tidak berpengaruh. Pasalnya, kemenangan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang mengusung peraih Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi dibatalkan penguasa junta militer.

Tak hanya itu, Suu Kyi justru ditangkap dan dijadikan tahanan rumah. Pada 2010, putri Jenderal Aung San itu dibebaskan. Pada tahun yang sama, pemilu kembali digelar. Kendati memiliki kesempatan menyalurkan hak suaranya, Swar menolak berpartisipasi dengan alasan pemilu tidak berjalan jujur dan adil. Benar saja, partai penguasa Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP) memenangi pemilu. Partai oposisi, NLD, menolak hasil pemilu yang dipenuhi rekayasa dan kecurangan tersebut. Kecurangan tersebut telah memicu gejolak politik.

Pemerintah Myanmar yang sebelumnya bernama Burma di bawah kekuasaan junta militer berubah menjadi pemerintah sipil. Namun, pemerintahan Myanmar tetap dikuasai para mantan petinggi militer. Dengan pengalaman itu, Swar meyakini bahwa pemungutan suara yang digelar tiga hari lagi akan menjadi game-changer bagi masyarakat Myanmar yang bertahun-tahun ditekan. Dengan begitu banyak hal yang mewarnai sejarah negaranya, Swar percaya pemilu kali ini akan menjadi kunci yang mampu mengubah pemerintahan Myanmar.

"Hasil pemilu nanti mungkin tidak akan langsung membawa negeri ini menuju demokrasi, tapi saya yakin, itu (pemilu mendatang) akan menguatkan masyarakat," ujar pria pemimpin lebih dari 2.000 pengawas pemilu yang tersebar di seluruh penjuru wilayah Myanmar itu. Harapan serupa juga diimpikan Myint Myint San, perempuan berusia 70 tahun. Ia bahkan pernah menjadi penghuni hotel prodeo pada masa pemerintah junta karena membela Suu Kyi. "Saat itu, kami berada dalam masa yang sulit," kenang Myint San. "Tidak ada HAM. Kami bahkan hampir tidak makan karena makanan yang mereka berikan berasa kotoran kecoa," lanjut Myint San.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya