Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Drone dan Rudal Iran Hantam Basis Militer AS, Ketegangan kian Meluas

Ferdian Ananda Majni
03/3/2026 16:35
Drone dan Rudal Iran Hantam Basis Militer AS, Ketegangan kian Meluas
Iran menyerang fasilitas gas Qatar.(Al Jazeera)

KETEGANGAN di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan besar-besaran menggunakan drone dan rudal ke sejumlah aset strategis Amerika Serikat (AS). Serangan yang terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 pagi waktu setempat ini menyasar pangkalan militer AS di Bahrain dan Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi.

Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas, memaksa Washington memerintahkan evakuasi massal staf diplomatik dari beberapa negara tetangga sebagai langkah antisipatif terhadap potensi serangan susulan.

Detail Serangan IRGC: 20 Drone dan 3 Rudal

Berdasarkan laporan resmi dari IRGC yang dikutip oleh Al Jazeera, operasi militer ini melibatkan pengerahan sedikitnya 20 pesawat nirawak (drone) dan tiga rudal balistik. Target utama serangan tersebut adalah pusat komando dan markas utama pangkalan militer AS yang berada di Bahrain.

"IRGC mengerahkan 20 drone dan tiga rudal yang menghancurkan pusat komando dan markas utama pangkalan militer AS dan membakarnya," tulis pernyataan resmi IRGC pada Selasa (3/3).

Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam rangkaian aksi konfrontasi antara Teheran dan instalasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Pihak Iran mengklaim operasi ini sukses mencapai target-target strategis yang telah ditentukan sebelumnya.

Serangan Drone Sasar Kedutaan Besar AS di Riyadh

Selain menargetkan pangkalan militer, serangan Iran juga meluas ke fasilitas diplomatik. Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dilaporkan menjadi target serangan dua drone. Insiden ini memaksa misi diplomatik AS di Riyadh untuk menghentikan operasional sementara waktu.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi memberikan keterangan terkait insiden yang terjadi di ibu kota mereka tersebut. Menurut penilaian awal, serangan ini memicu dampak fisik pada kompleks gedung diplomatik.

"Kedubes AS di Riyadh telah diserang oleh dua drone berdasarkan penilaian awal. Serangan ini menyebabkan kebakaran kecil dan kerusakaan minor pada gedung," demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Saudi.

AS Perintahkan Evakuasi Diplomat di Tiga Negara

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan yang signifikan, Kementerian Luar Negeri AS mengambil tindakan cepat. Otoritas di Washington memerintahkan seluruh staf diplomatik beserta anggota keluarga mereka di tiga negara kunci untuk segera meninggalkan lokasi.

Negara-negara yang masuk dalam daftar evakuasi tersebut adalah:

  • Bahrain
  • Irak
  • Yordania

Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko korban jiwa di kalangan warga sipil dan pejabat pemerintah AS yang bertugas di zona yang kini dianggap berisiko tinggi.

Situasi di Timur Tengah saat ini masih sangat dinamis. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengimbau seluruh WNI di kawasan tersebut untuk tetap waspada dan mengikuti arahan KBRI setempat.

Analisis Eskalasi Keamanan Regional

Eskalasi ini memperlihatkan meluasnya dampak konflik yang kini secara langsung menyeret negara-negara Arab yang menjadi lokasi penempatan pasukan atau fasilitas diplomatik Amerika Serikat. Keterlibatan Bahrain dan Arab Saudi dalam lintasan serangan ini menunjukkan bahwa ruang lingkup konflik telah melampaui perbatasan tradisional Iran-Irak.

Para analis keamanan internasional memprediksi bahwa pasar energi global akan segera bereaksi terhadap ketegangan ini, mengingat posisi strategis Bahrain dan Riyadh dalam peta geopolitik minyak dunia. Saat ini, komunitas internasional tengah menunggu pernyataan resmi dari Gedung Putih terkait langkah balasan yang mungkin diambil oleh Presiden AS. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya