PARA ilmuwan, kemarin, menemukan bahwa es di Antartika Barat yang kembali mencair bisa menaikkan level air laut hingga 3 meter di beberapa daerah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dipimpin ahli gletser NASA Eric Rignot tahun lalu, es yang mencair di Antartika sudah tidak bisa terbendung dan bisa menaikkan permukaan laut hingga 1,2 meter.
Kali ini, para peneliti di Potsdam Institute for Climate Impact Research menunjukkan dampak jangka panjang dari Laut Amundsen yang terletak di Antartika Barat. Para peneliti menemukan bahwa kondisi permukaan air laut di Amundsen sudah berada dalam skala yang sangat mengkhawatirkan.
Setelah meneliti evolusi jangka pendek daerah Antartika di masa mendatang, Potsdam melakukan simulasi evolusi jangka panjang dari seluruh Antartika Barat.
Untuk melakukannya, ilmuwan menggunakan model komputer untuk memproyeksikan efek dari pencairan es 60 tahun mendatang.
"Ini akan mendorong lembaran dasar es di Antartika Barat melewati ambang batas kritis. Disintegrasi jangka panjang akan terjadi," kata para peneliti dalam studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.
Dengan kata lain, seluruh lapisan es di laut akan patah dan mengambang ke laut lepas lalu menyebabkan kenaikan permukaan laut global sekitar 3 meter.
"Jika proses destabilisasi dimulai, peningkatan permukaan air laut setinggi 3 meter akan terjadi selama beberapa abad berikutnya," kata para peneliti. Bahkan, pemanasan di laut selama beberapa dekade dapat melelehkan es dan berdampak hingga ribuan tahun.
"Setelah lapisan es menyusut, seperti gejala yang terjadi hari ini, mereka merespons dengan cara-cara yang nonlinear. Akan ada gangguan yang relatif mendadak," kata peneliti Johannes Feldmann.
Para peneliti mencatat bahwa situasi Antartika menyajikan ketidakpastian terhadap proyeksi permukaan air laut untuk abad mendatang. Oleh karena itu, mempelajari dampak pencairan es dalam wilayah yang luas merupakan tantangan besar.
Namun, ahli klimatologi Michael Mann mengatakan penggunaan data satelit lama bisa saja tidak akurat.
"Isu utama di sini ialah klaim yang didasarkan pada data yang sudah berumur tujuh tahun. Data ini tidak bisa dipertanggungjawabkan dan menjadi dasar penelitian atas hilangnya es Antartika dalam beberapa tahun terakhir," kata Mann. (AFP/Fox/I2)