"PERHATIAN semuanya wahai para pelanggar! Saya Supreme Serpent!" teriak pemimpin organisasi kepada sekelompok imigran ilegal yang mencoba menyeberangi perbatasan. "Dengan datang ke tanah berdaulat ini, kalian telah menentang hukum Tuhan, alam, dan konstitusi!" lanjut sang pemimpin. Para imigran yang ketakutan berlutut dan mengatakan tidak berniat mencari masalah apa pun.
"Ya, tetapi saya melihat kalian telah cukup banyak membawa masalah. Kejahatan, penyakit, dan pada dasarnya semua sudah ada di pundak kalian," bantah Supreme Serpent. "Jika dinding besar dan kuat tidak dibangun," lanjut sang pemimpin, "Kalian akan terus mengambil pekerjaan yang menjadi hak kami." "Wahai para pelanggar, kalian semua ikut kami atau kalian akan menerima akibatnya." Bukan. Dialog tersebut bukan percakapan antara imigran asal Suriah dan petugas keamanan perbatasan di wilayah Eropa.
Bukan juga percakapan yang terjadi antara para pencari suaka dari Rohingya dan kepolisian di Asia Tenggara. Percakapan itu merupakan salah satu panel dari komik Marvel edisi terbaru. Kengerian tentang kisah-kisah imigran ilegal yang terjadi beberapa waktu terakhir ternyata mampu menginspirasi komikus Amerika Serikat (AS) seperti Nick Spencer dan Daniel Acuna untuk mengadaptasi peristiwa mengerikan tersebut ke dunia komik. Spencer mengangkat konflik imigran tersebut ke dalam sebuah isu komik Marvel terbaru berjudul Sam Wilson: Captain America.
Komik yang terbit pada 14 Oktober itu menceritakan tentang Samuel Thomas Wilson, yang kini kelimpahan tameng Captain America. Dia memiliki begitu banyak perbedaan dengan pendahulunya, Steven Rogers. Wilson cenderung memiliki pandangan yang tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintahan AS, salah satunya ialah konflik imigran. Di komik tersebut, Captain America tidak berperang melawan para imigran, tapi memerangi sekelompok penjahat yang berusaha menghentikan para pencari suaka itu dengan cara yang tidak manusiawi.
Mirip Trump Komik tersebut bukanlah sebuah masalah hingga beberapa pihak, di dunia nyata, mengklaim pemimpin penjahat yang diperangi Captain America, Supreme Serpent, ialah gambaran dari tokoh Partai Republik Donald Trump. Beberapa pendukung pihak Konservatif itu menganggap Spencer melakukan kampanye terselubung melalui komiknya. Mereka menganggap ada beberapa hal identik dari dua tokoh yang berasal dari dunia yang berbeda itu.
Pada peresmian dirinya menjadi kandidat calon Presiden dari Partai Republik, Trump berjanji akan membangun dinding besar di sepanjang perbatasan AS dan Meksiko untuk mencegah para imigran masuk. Hal itu sama seperti apa yang dikatakan Supreme Serpent. "Saya akan bangun dinding besar di perbatasan kita di bagian selatan dan saya akan minta Meksiko membayar untuk dinding itu. Camkan kata-kata saya!" seru Trump, 17 Juni silam.
Tucker Carlson, seorang cendekiawan konservatif sekaligus koresponden dan pembawa acara berita politik AS, dalam acara di stasiun televisi Fox News, Fox & Friends, mengatakan tokoh Captain America kali ini sudah melenceng dari jalurnya. "Sebenarnya Serpent ini siapa? Apakah ia bagian dari Islamic State (IS) yang berusaha menghancurkan peradaban Barat?" tanya Carlson mengejek.
Saat menjawab pertanyaannya sendiri, Carlson mengatakan Serpent hanyalah seorang warga AS yang memiliki keraguan terkait dengan kebijakan imigrasi yang diterapkan pemerintah saat ini. "Dan menurut Captain America itu merupakan kejahatan?" tanyanya. "Dia memiliki musuh baru. Bukannya melawan Hydra atau musuh lain semacamnya, dia malah melawan konservatif," ujar co-host Clayton Morris.
Ketika menanggapi berbagai kecaman atas komiknya, Spencer, melalui akun Twitter pribadinya mengatakan buku tersebut tidak mendukung partai mana pun. Ia juga menjanjikan, "Saya berharap pihak konservatif dapat memberikan kesempatan kepada Sam Wilson: Captain America. Maksud buku ini ialah topikal, bukan partisan." Hal itu ditegaskan Spencer yang telah beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan sejak Sam Wilson: Captain America dirilis.
Isu hangat Masalah kewarganegaraan imigran memang menjadi isu hangat yang kerap tersaji di meja diskusi Kongres AS. Partai Demokrat dan Republik sepaham bahwa banyaknya populasi imigran gelap merusak sistem kuota visa. Perubahan terhadap sistem keimigrasian pun menjadi hal krusial. Perombakan yang mengatur status jutaan imigran telah disetujui oleh Senat dengan mayoritas Partai Demokrat. Namun, hasil perombakan tersebut ditolak oleh mayoritas kader Republik di dewan perwakilan rakyat.
Gelombang minoritas Amerika Tengah lantas mengutarakan kembali isu imigran itu. Dengan pendirian teguh, para kader Partai Republik mengatakan bahwa reformasi regulasi tidak akan terjadi sebelum perbatasan dengan Meksiko diperketat. Perseteruan tersebut memaksa Presiden AS Barack Obama turun tangan dengan menggunakan kewenangan eksekutif untuk menengahi pertikaian di dalam Kongres. Hal itu dilakukan untuk melindungi sekitar 4 juta warga asing ilegal dari deportasi pada November 2014.
Dengan kebijakan reformasinya, Obama akan meloloskan imigran ilegal dari ancaman deportasi dengan syarat-syarat tertentu. "Apa yang saya gambarkan ialah akuntabilitas, akal sehat, sebuah pendekatan jalan tengah," ujar Obama. "Jika Anda memenuhi kriteria, Anda bisa keluar dari bayang-bayang dan mendapatkan hak dengan hukum." Namun, pada Februari 2015, upaya tersebut terjegal ketika hakim Texas mengeluarkan surat perintah darurat hingga sidang legalitas bagi para imigran dijalankan. Data 2012 menunjukkan imigran gelap di AS mayoritas berasal dari Meksiko dengan persentase 59%, disusul El Salvador (6%), Guatemala (5%), lalu Honduras, dan Filipina (3%).