HAMPARAN bunga-bunga penuh warna bermekaran menutupi Gurun Atacama di Cile.
Padahal, gurun itu dikenal paling gersang di dunia.
Dari bunga lonceng Cile atau Nolana paradoxa yang berwarna ungu-putih, bunga cakar singa alias Bomarea ovallei yang merah menyala, hingga kuningnya bunga Rhodophiala rhodolirion terbentang.
Gurun yang biasanya pucat menjelma semarak.
"Tahun ini memang istimewa. Fenomena ini spektakuler sepanjang 40 atau 50 tahun terakhir," tutur Raul Cespedes, pakar gurun di Universitas Atacama, Cile.
Yang terjadi di Atacama bukanlah efek musim semi, melainkan sisi lain fenomena cuaca ekstrem atau El Nino.
El Nino, yang kerap mengacaukan pola cuaca dunia setiap 2-7 tahun, diketahui menimbulkan dampak negatif sepanjang tahun ini.
El Nino merupakan gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik pada sekitar ekuator khususnya di bagian tengah dan timur.
Di Benua Amerika dan Eropa, penyimpangan cuaca itu menyebabkan peningkatan curah hujan sehingga memicu bencana banjir besar.
Sebaliknya di Asia, Australia, dan Afrika, curah hujan berkurang drastis yang menyebabkan kemarau panjang.
Di Atacama dengan temperatur mencapai 40 derajat celsius sepanjang tahun ini, curah hujan yang tinggi melanda sehingga lokasi tersebut menjadi amat subur.
"Umumnya jika orang berpikir tentang gurun, yang terpikir ialah tempat kering dan gersang. Di sini tidak begitu," lanjut Cespedes.
Menurut dia, ada ekosistem laten di wilayah Atacama yang muncul saat kondisi tertentu.
"Persis seperti sekarang ini," imbuhnya.
Meski langka, munculnya hamparan bunga-bunga berwarna-warni yang indah di Atacama bukan pula yang pertama kali terjadi pada tahun ini.
Hal serupa terjadi pada Maret silam. Kala itu hujan deras mengguyur kawasan tersebut sampai-sampai menyebabkan banjir yang merenggut lebih dari 30 korban jiwa.
"Ini benar-benar fenomena yang sangat tidak biasa karena yang terjadi pada Maret lalu pun tidak pernah terjadi sebelumnya, dan sekarang, itu ada lagi," ujar Direktur Badan Pariwisata Nasional Atacama, Daniel Diaz.
Dia menyatakan dua kali mekarnya bunga dalam satu tahun yang terjadi di wilayah paling gersang di dunia merupakan hal yang sangat tidak biasa.
"Yang terpenting, orang-orang di seluruh dunia bisa menikmatinya saat ini. Ini fenomena indah yang memunculkan banyak kebahagiaan," ujar Diaz.
Sejak muncul fenomena bunga bermekaran, kunjungan wisatawan di Atacama meningkat 40%.
"Sungguh luar biasa dan amat nyata," ucap pelancong asal Inggris Edward Zannahand yang sengaja mengunjungi Atacama untuk melihat sendiri lautan bunga di Gurun Atacama.