Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Xi Jinping Undang 26 Pemimpin Dunia Hadiri Parade Militer Hari Kemenangan Tiongkok

Ferdian Ananda Majni
29/8/2025 11:26
Xi Jinping Undang 26 Pemimpin Dunia Hadiri Parade Militer Hari Kemenangan Tiongkok
Pedro PARDO / AFP(Presiden Tiongkok Xi Jinping)

XI Jinping Undang 26 Pemimpin Dunia Hadiri Parade Militer Hari Kemenangan Tiongkok ke-80. Presiden Tiongkok Xi Jinping mengundang 26 pemimpin asing, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, untuk menghadiri peringatan Hari Kemenangan Tiongkok di Beijing. 

Informasi tersebut diumumkan Asisten Menteri Luar Negeri Hong Lei pada Kamis (28/8).

Menurut Kantor Berita Xinhua, parade militer besar-besaran akan digelar pada 3 September sebagai bagian dari peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang sekaligus Perang Anti-Fasis Dunia.

Sejumlah kepala negara yang dipastikan hadir antara lain Putin, Kim, Raja Kamboja Norodom Sihamoni, Presiden Vietnam Luong Cuong, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh, hingga Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif. 

Hadir pula pemimpin dari negara Asia Tengah, Eropa Timur, Afrika, hingga Amerika Latin seperti Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Serbia Aleksandar Vucic, hingga Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel.

Selain kepala negara, undangan juga diberikan kepada pimpinan parlemen, pejabat tinggi, mantan pemimpin politik, serta perwakilan organisasi internasional. Para pengamat menilai kehadiran hampir semua pemimpin negara tetangga Tiongkok menunjukkan keberhasilan diplomasi kawasan Beijing dan dukungan terhadap komitmen menjaga perdamaian.

Dalam konferensi pers, Hong Lei menekankan arti penting kehadiran Putin. 

"80 tahun yang lalu, Tiongkok dan Uni Soviet, sebagai medan perang anti-fasisme utama di Asia dan Eropa, berdiri sebagai tulang punggung dalam perjuangan melawan militerisme dan fasisme, dengan pengorbanan nasional yang sangat besar," katanya seperti dikutip Global Times, Jumat (29/8).

Hong menambahkan, kunjungan Putin kali ini menegaskan kemitraan strategis Tiongkok-Rusia di era baru dan menunjukkan tekad bersama mempertahankan kemenangan Perang Dunia II.

Dari Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menyampaikan bahwa kunjungan Putin ke Tiongkok akan menjadi momen yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan persiapan yang sedang berjalan intensif.

Menanggapi kehadiran Kim Jong-un, Hong menegaskan bahwa Tiongkok dan Korea Utara adalah negara tetangga yang bersahabat secara tradisional, terhubung oleh pegunungan dan sungai. 

"Kami menyambut Sekretaris Jenderal Kim Jong-un untuk menghadiri peringatan di Tiongkok," sebutnya.

Hong mengingatkan bahwa peringatan tahun ini bertepatan dengan 80 tahun pembebasan Korea, saat rakyat Tiongkok dan Korea berjuang bersama melawan agresi Jepang.

Media internasional turut menyoroti daftar tamu kehormatan tersebut. BBC menulis bahwa partisipasi Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Malaysia mencerminkan langkah Beijing memperkuat hubungan dengan Asia Tenggara. 

Sementara The Straits Times mengutip pengamat yang mengatakan bahwa semua mata akan tertuju pada bagaimana Tiongkok memanfaatkan rangkaian acara penting untuk menciptakan tatanan internasional multipolar yang tidak terlalu berpusat pada AS.

Lu Xiang, peneliti dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, menekankan bahwa peringatan perang ini bukan untuk mengabadikan konfrontasi, tetapi untuk mendorong persatuan demi membangun lingkungan yang damai. Dalam kesempatan yang sama, Hong juga menegaskan pentingnya menjaga kebenaran sejarah. 

"Menjaga kebenaran sejarah dan menegakkan pandangan sejarah yang benar menyangkut hati nurani manusia, keadilan internasional dan perdamaian dunia," tambahnya.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi sorotan Jepang terhadap peringatan Hari Kemenangan Tiongkok. Hong menilai sebagian pihak di Jepang berupaya mengaburkan sejarah agresi dengan melonggarkan kebijakan militer dan mencoba membangun narasi bahwa Jepang adalah korban perang. 

"Kemampuan Jepang untuk memahami dan menyikapi sejarah dengan benar merupakan ujian lakmus untuk menentukan apakah Jepang akan menjunjung tinggi hati nurani dan tetap berkomitmen pada pembangunan yang damai," pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya