Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Ujung Panah Tertua di Dunia? Artefak Batu 80.000 Tahun Ditemukan di Uzbekistan

Iko Amraeny
29/8/2025 09:32
Ujung Panah Tertua di Dunia? Artefak Batu 80.000 Tahun Ditemukan di Uzbekistan
Fragmen mikropoint dan bilah kecil (bladelet) ditemukan di situs arkeologi Obi-Rakhmat, Uzbekistan.(Plisson et al., PLOS One, CC BY 4.0)

ARTEFAK batu berukuran kecil yang ditemukan di Uzbekistan. Artefak ini mungkin bisa jadi merupakan ujung panah paling tua yang pernah ditemukan, berdasarkan temuan penelitian terbaru.

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah alat batu tersebut dibuat oleh manusia modern, Neanderthal, atau kelompok manusia  purba lainnya.

Para arkeolog menemukan artefak itu di situs Obi-Rakhmat, yang terletak di timur laut Uzbekistan. Pada penggalian sebelumnya, peneliti telah menemukan beragam alat batu, mulai dari bilah tipis dan lebar hingga bilah kecil yang dikenal sebagai bladelet. Namun, sejumlah batu kecil berbentuk segitiga, disebut mikrolit, sempat diabaikan karena banyak yang sudah dalam kondisi pecah.

Kini, dalam sebuah studi yang diterbitkan 11 Agustus di jurnal PLOS One, para peneliti berpendapat "mikropoint" ini terlalu sempit untuk dipasangkan pada apa pun selain batang mirip anak panah. Batu-batu itu juga memperlihatkan pola kerusakan yang sesuai dengan penggunaan sebagai ujung panah, kata Hugues Plisson, peneliti di Universitas Bordeaux, Prancis.

Mikropoint yang diperkirakan berusia sekitar 80.000 tahun ini mungkin merupakan ujung panah tertua di dunia. Diperkirakan sekitar 6.000 tahun lebih tua dibanding artefak berusia 74.000 tahun yang ditemukan di Ethiopia, ujar para peneliti.

Namun, para ilmuwan mengakui temuan ini pasti akan menimbulkan perdebatan.

“Busur dan batang panahnya sendiri tidak terawetkan, jadi wajar bila ada skeptisisme dari rekan-rekan,” kata Andrey Krivoshapkin, salah satu penulis studi sekaligus direktur cabang Siberia di Institut Arkeologi dan Etnografi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Meski begitu, temuan ini menunjukkan teknologi senjata dan perburuan yang rumit sudah tersebar lebih luas secara geografis pada masa lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, jelas Christian Tryon, arkeolog Paleolitik dari Universitas Connecticut yang tidak terlibat dalam penelitian ini. “Seperti biasa, kita sering meremehkan kemampuan nenek moyang kita.”

Siapa yang menciptakan artefak batu di Obi-Rakhmat masih belum pasti.

Pada penggalian tahun 2003, arkeolog menemukan enam gigi serta 121 fragmen tengkorak milik seorang anak berusia sekitar 9-12 tahun. Gigi yang ditemukan memiliki kemiripan dengan Neanderthal, sementara bentuk tengkoraknya menunjukkan ciri yang lebih samar. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan apakah anak tersebut termasuk dalam spesies manusia modern, atau mungkin merupakan hibrida antara Homo sapiens dengan Neanderthal maupun Denisovan.

Asia Tengah merupakan wilayah Neanderthal tempat dimana ini dibuat, kata Plisson. Namun, tidak ada bukti Neanderthal menggunakan ujung panah, catat studi tersebut. Para peneliti menyarankan artefak Obi-Rakhmat kemungkinan besar dibuat oleh Homo sapiens.

“Kemunculan populasi Obi-Rakhmat di Asia Tengah bertepatan dengan masa penyebaran manusia modern anatomis di Eurasia,” ujar Krivoshapkin. Para peneliti mengatakan migran itu mungkin berasal dari Levant, kawasan Mediterania Timur yang kini mencakup Israel, Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan sekitarnya.

Saat manusia modern tiba, wilayah Obi-Rakhmat kemungkinan sudah dihuni kelompok lain seperti Neanderthal. Teknologi mikrolit ini diduga membantu mereka mendapatkan makanan di lingkungan baru.

“Penemuan kami membantu mengidentifikasi strategi subsistensi yang memungkinkan masyarakat Obi-Rakhmat bersaing dengan kelompok yang sudah lama beradaptasi dengan lanskap yang kami teliti,” kata Krivoshapkin.

Komunitas Obi-Rakhmat

Saat ini, para ilmuwan berusaha menelusuri kapan tepatnya komunitas Obi-Rakhmat pertama kali menetap di Asia Tengah. Mereka berharap bisa menemukan kaitan arkeologis maupun genetik dengan kelompok yang tinggal di Levant. Selain itu, para peneliti juga berencana meneliti lokasi-lokasi arkeologi lain di kawasan tersebut yang kemungkinan lebih tua, dan berpotensi mengungkap keberadaan ujung panah berusia lebih dari 80.000 tahun.

“Inovasi ini bisa saja muncul jauh lebih awal dan bertahan dalam jangka waktu panjang,” ujar Krivoshapkin.

“Akan luar biasa jika bisa menemukan lokasi perburuannya langsung,” kata Tryon. “Namun lokasi semacam itu sulit ditemukan di lanskap.” (Livescience/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya