Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PULAU Manus ialah salah satu pusat penahanan ribuan pencari suaka yang ingin ke Australia. Kehidupan di wilayah Papua Nugini itu tidak jauh berbeda dengan Penjara Guantanamo, Kuba, yang dikelola Amerika Serikat. Hal itulah yang membuat Australia seakan terus menutupinya dari dunia. Jurnalis BBC mengakui sangat sulit mendapat visa ke sana sehingga terpaksa menyamar sebagai turis. "Kami berhasil menyelundupkan kamera lewat para pejabat Australia dan mencapai kamp," kata mereka pada awal Agustus. Wajah-wajah pencari suaka itu terlihat menempel di pagar seolah menyadari mereka telah terjebak lama di Pulau Manus. Niat melarikan diri dari zona perang dunia seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan, ke Australia malah berujung di penjara tanpa batas waktu. Tercatat beberapa pencari suaka telah tinggal di Pulau Manus selama hampir dua tahun. Tahun lalu ialah puncak pergolakan. Seorang pencari suaka Iran tewas, ratusan orang mogok makan, bahkan mereka sampai menjahit bibir. Ada pula yang menelan pisau cukur sebagai tanda keputusasaan. Orang-orang di Manus juga takut berbicara. Hanya seorang Timur Tengah, Ahmed (bukan nama sebenarnya), yang mau mengungkapkan kehidupan di Pulau Manus setelah ia mendekam 18 bulan di pusat penahanan.
"Situasi saya di tahanan sangat, sangat, sangat mengerikan," katanya. Dia mengaku tinggal di kamar berukuran 2 meter persegi bersama empat orang. Pemerintah Australia tak mengindahkan hak asasi manusia dan tidak memiliki rencana untuk para pencari suaka. Ahmed mengatakan dia melarikan diri dari negara asalnya setelah mencoba mengekspos korupsi dalam bisnisnya. Dia tidak bisa kembali ke rumah karena telah meninggalkan Islam. "Mereka akan membunuh saya jika saya kembali," ujar Ahmed. Dirinya tidak memiliki pilihan lain kecuali meninggalkan seorang saudara perempuannya dan orangtua yang sangat dikasihi. Sebenarnya sulit menoleransi keadaan itu tanpa keluarga. Namun, Ahmed berusaha memulai kehidupan baru di sana. Ahmed hanya salah satu dari dua lusin pencari suaka yang setuju dimukimkan di Pulau Manus sebagai pengungsi dan berharap mendapat kehidupan yang lebih baik. Di pusat permukiman itu, penjagaan amat ketat. Ahmed diperbolehkan keluar hanya pada siang hari untuk beraktivitas, seperti olahraga, laiknya pengungsi lain.
Namun, dia tidak diperbolehkan bekerja dan harus taat pada jam malam. Pada 2013, saat di bawah pemerintahan Partai Buruh, PM Kevin Rudd telah melakukan kesepakatan dengan Papua Nugini untuk menjadikan Pulau Manus sebagai kamp penampungan. Sebagai imbalannya, Australia setuju memberikan bantuan kepada negara miskin di Pasifik itu dengan uang AU$400 juta (US$300 juta). Pemerintah Australia beralasan langkah itu dilakukan untuk mencegah pencari suaka putus asa saat tidak berhasil mencapai negeri tersebut. Namun, berdasarkan kabar yang beredar, para pejabat Australia membayar puluhan ribu dolar untuk menggagalkan perjalanan para pencari suaka. Kelompok hak asasi manusia mengecam metode yang diterapkan pemerintah Australia dan menganggap langkah itu tidak manusiawi. Australia juga dinilai lalai melakukan kewajiban internasional. Bagi para pencari suaka, Pulau Manus bukanlah negeri yang mereka impikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved