Rabu 31 Agustus 2022, 10:00 WIB

Sebabkan Kegaduhan, Al-sadr Minta Maaf

Cahya Mulyana | Internasional
Sebabkan Kegaduhan, Al-sadr Minta Maaf

AFP/AHMAD AL-RUBAYE
Pendukung Moqtada al Sadr berkemas dan segera meninggalkan tempat berkemah dan membersihkan zona hijau Bagdad

 

PEMIMPIN Syiah Irak Moqtada Al-sadr menyampaikan permintaan maaf karena sikapnya telah membuat kegaduhan hingga menyebabkan 30 orang tewas dan 570 lainnya terluka. Politikus senior yang memprotes kegagalan politik negaranya dengan mengundurkan diri itu membuat pendukungnya kecawa dan memicu aksi kekerasan.

"Saya meminta maaf kepada rakyat Irak, satu-satunya yang terkena dampak peristiwa itu," kata al-Sadr di markasnya, Najaf, Irak tengah.

Setelah pidatonya disiarkan langsung di televisi, para pendukungnya mulai membongkar perkemahan dan membersihkan Zona Hijau, Bagdad. Tentara juga mencabut jam malam nasional yang diberlakukan sejak kekerasan meletus pada Senin (28/8).

Pengunduran diri Al-sadr dari panggung politik didasarkan pada pemerintahan Irak yang tak kunjung terbentuk. Keputusan itu memantik pendukungnya turun ke jalan dan bentrokan dengan tentara pun tak terelakkan.

Insiden itu menyebabkan 30 orang tewas pada Senin (28/8) di pusat demonstrasi, Irak, Bagdad. Kekerasan itu mendorong Presiden Irak Barham Saleh meminta pemilu lebih cepat untuk mendapatkan konsensus nasional.

"Cara itu dapat memberikan jalan keluar dari krisis yang ini," kata Barham Saleh.

Baca juga:  Korban Tewas Bertambah 20 Orang, Iran Tutup Perbatasan Darat Irak

Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi, mengatakan akan menanggalkan jabatannya jika krisis politik berlanjut. Al-sadr keluar dari kancah politik usai tuntutan para pendukungnya yang meminta pemerintahan baru yang mewakili seluruh kelompok tidak membuahkan hasil.

Analis International Crisis Group Irak, Lahib Higel, mengatakan Al-sadr ingin menunjukkan kepada saingannya bahwa dirinya memiliki pengaruh.

"Pernyataan Al-sadr cukup jelas menunjukkan bahwa dia tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut," kata Higel.

Al-sadr memiliki pengikut setia dan pernah memimpin kelompok milisi dalam melawan pasukan Amerika dan Irak setelah penggulingan Saddam Hussein pada 2003. Dirinya menolak untuk bernegosiasi dengan lawan politiknya yang juga dari Syiah namun didukung Iran dalam membentuk pemerintahan baru.

Retorika nasionalis dan agenda reformasi Al-Sadr bergema kuat dengan para pendukungnya, yang sebagian besar berasal dari sektor masyarakat termiskin Irak dan secara historis tertutup dari sistem politik. (Aljazeera/OL-5)

Baca Juga

AFP/UAE PRESIDENTIAL COURT

UEA Sepakat Pasok Gas dan Bahan Bakar Diesel untuk Jerman

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 26 September 2022, 09:27 WIB
Scholz berada di UEA dalam rangkaian tur ke kawasan Teluk yang mencakup lawaran ke UEA, Arab Saudi dan Qatar untuk memburu sumber energi...
AFP/Christophe ARCHAMBAULT

Abaikan Ancaman Pemerintah, Demonstrasi di Iran Berlanjut untuk Malam Kesepuluh

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 26 September 2022, 08:45 WIB
Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei, Minggu (25/9), menegaskan akan bertindak tegas tanpa kecuali terhadap para demonstan yang...
AFP/Delil SOULEIMAN

Uni Eropa Kecam Tindakan Keras Polisi Iran terhadap Demonstran

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 26 September 2022, 07:45 WIB
Sedikitnya 41 orang, mayoritas demonstran, tewas menurut data resmi pemerintah Iran namun kelompok HAM menyebut angkanya lebih tinggi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya