TAKEKO Kakazu, 97, bersimpuh dan meletakkan bunga di hadapan monumen pualam berwarna hitam. Di situ tertulis nama-nama korban jiwa dalam pertempuran di Okinawa, Jepang, 70 tahun silam. Hingga kini, Kakazu yang saat itu sedang hamil masih tidak percaya dia bisa selamat dari pertempuran selama 82 hari yang merenggut nyawa 100 ribu penduduk dan 80 ribu tentara Jepang itu.
Perang Okinawa, yang terjadi sepanjang 1 April-23 Juni 1945 di Pulau Okinawa, Kepulauan Ryukyu, Jepang, disebut-sebut sebagai pertempuran paling berdarah dalam rentetan Perang Pasifik sepanjang masa Perang Dunia II. Kakazu merupakan salah satu penyintas perang.
"Kami sempat didesak ke titik ini," kata Kakazu sembari menunjuk sebuah lokasi yang dijuluki 'tebing bunuh diri.' Di situlah, saat AS menginvasi Okinawa, banyak warga terjun dari atas tebing atau meledakkan diri dengan granat. Bagi mereka, lebih baik bunuh diri daripada menyerah kepada tentara AS. Hampir setiap keluarga di Pulau Okinawa kehilangan satu anggota keluarga akibat perang itu.
Kakazu sempat berlindung di sebuah gua. Namun, ia diusir penduduk desa yang juga berlindung di sana. Mereka takut gua tempat persembunyian mereka diketahui begitu Kakazu melahirkan dan bayinya menangis.
"Saya bingung. Bom meledak di mana-mana. Peristiwa itu sangat mengerikan. Sampai kini saya tidak tahu bagaimana saya bisa selamat atau bagaimana saya melahirkan bayi. Itu keajaiban," kenang Kakazu dalam upacara mengenang pertempuran Okinawa yang dihadiri Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, kemarin.
Setelah sempat terlunta-lunta di pinggir jalan, Kakazu berlindung di tengah pepohonan. Saat itulah, ia ditangkap tentara AS, dibawa ke kapal perang, hingga melahirkan di sana. Eihon Arakaki juga kehilangan keluarganya dalam perang. Saat itu, dia masih duduk di sekolah dasar. "Ibu, ayah, dan adik-adik saya tewas. Saya satu-satunya yang selamat," ucapnya lirih.
Luka perang masih berbekas pada tubuh Arakaki. Siku kanannya hancur akibat pecahan bom. Sejak itu, Arakaki tidak bisa meluruskan lengannya. "Beberapa orang yang namanya ada di monumen ini ialah teman saya," kata Arakaki.
Kenji Kawai, 78, juga hadir dalam upacara peringatan. Dia memberi penghormatan di hadapan monumen mendiang ayahnya yang tewas akibat perang. "Terima kasih kepada semua orang yang telah berkorban. Tidak ada gunanya memelihara amarah. Apa yang terjadi di masa lalu ialah masa lalu. Yang penting saat ini kita pastikan perang tidak akan pernah terjadi lagi," ucap Kawai.