Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Perempuan di Antara Kecamuk Perang

Adiyanto
11/4/2016 01:50
Perempuan di Antara Kecamuk Perang
(AFP / MATTHIEU ALEXANDRE)

PADA usia 13 tahun, Lynsey Addario diberi hadiah ulang tahun sebuah kamera Nikon oleh orangtuanya.

Ketika itu, gadis yang baru beranjak remaja itu berpikir hadiah tersebut sangat mewah.

Apalagi, orangtuanya hanyalah seorang penata rambut di kota kecil di Connecticut, Amerika Serikat.

Namun, siapa sangka, lantaran kamera dan hobinya memotret itulah, perempuan keturunan Italia-Amerika tersebut akhirnya bisa melanglang buana, bahkan dinobatkan menjadi salah satu fotografer perang ternama.

Kerja pertama Addario di luar negeri ialah saat memotret kehidupan kaum perempuan di Afghanistan ketika negeri itu di bawah rezim Taliban pada awal 2000.

Setelah insiden serangan 11 September 2001 dan pasukan AS memburu Osama bin Laden ke Afghanistan, Addario pun 'terpaksa' meliput momen itu.

"Saya tak pernah berpikir atau berkeinginan meliput perang. Saya memulainya karena memang sudah bekerja di sana (Afghanistan),'' ujar perempuan berusia 42 tahun itu kepada AFP, kemarin.

Setelah ia di Afghanistan, nasib menyeret perempuan lulusan Universitas Wisconsin, AS, itu ke berbagai wilayah konflik lain.

Suka duka yang dialami Addario menjadi fotografer di antara kecamuk perang dan tragedi kemanusiaan dapat dibaca di buku biografinya yang berjudul It's What I Do: A Photographer's Life of Love and War.

Buku itu baru diluncurkan 4 April lalu.

Sutradara beken Steven Spielberg bahkan tertarik mengangkat kisah itu ke layar lebar.

Film itu rencananya dibintangi Jennifer Lawrence yang bakal memerankan Addario.

"Saya sebetulnya kurang yakin buku ini bakal dibaca banyak orang. Saya kurang percaya diri dan terlalu egois. Saya pikir siapa yang mau peduli dengan kehidupan saya?," ujarnya setengah bertanya.

Sebagai fotografer perang, Addario sering terlibat di wilayah konflik, mulai Afghanistan, Kongo, Irak, hingga Libia.

Di Libia, dia pernah menjadi sandera tentara pendukung Khadafi bersama empat wartawan lain. Entah sudah berapa kali pula nyawanya nyaris melayang.

Namun, perempuan yang menjadi ibu sejak lima tahun lalu itu tak pernah jera dan masih saja terjun ke medan perang.

"Saya tak mau jadi fotografer pengecut atau perempuan penakut yang selalu berlindung kepada laki-laki," ujar perempuan yang pernah meraih hadiah Pulitzer bersama tim New York Times pada 2009 itu. (adiyanto/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya