Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
APLIKASI komunikasi Line menampilkan sejumlah stiker ikon emosi yang bernada satire dan menggambarkan raut wajah dari anggota keluarga Kerajaan Thailand.
Namun, ikon emosi satire dari Line tersebut telah dihapus, kemarin.
Stiker ikon emosi itu baru ditawarkan di sticker store Line pada Selasa (5/4) pukul 24.00.
Tidak sampai tiga hari, stiker ikon yang dianggap sensitif dan tidak membuat nyaman penggunaanya itu tidak lagi terlihat.
"(Penghapusan) dilakukan karena sejumlah stiker itu sensitif secara kultural dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi para pengguna di Thailand," kata kantor Line yang berbasis di Jepang dalam publikasi melalui media sosial Facebook, kemarin.
Keberadaan stiker ikon emosi itu menuai kritik dari pihak Kerajaan Thailand di bawah kepemimpinan Raja Bhumibol Adulyadej, 88.
Terlebih lagi, Thailand memiliki undang-undang yang mengatur tentang penghinaan terhadap kerajaan dengan hukuman penjara 15 tahun.
Undang-undang tentang penghinaan terhadap kerajaan itu dibuat pemerintah junta militer. Undang-undang itu diberlakukan setelah panglima militer Jenderal Prayuth Chan-ocha menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra pada 2014.
Line berkilah seperangkat stiker ikon emosi Kerajaan Thailand itu bukan merupakan produksinya, melainkan karya dari seorang penggunanya, sebagaimana yang terjadi di negara lain.
Pihak Line mengakui bahwa desain stiker yang dijual seharga US$0,99 itu telah melalui proses penilaian.
Line membela diri bahwa tidak semua stiker yang ditawarkan bernada satire, misalnya gambar Raja Bhumipol sedang bermain saksofon.
Di sisi lain, junta militer telah memanfaatkan stiker animasi Line untuk kepentingannya.
Tujuh bulan setelah memimpin Thailand, junta mengeluarkan serangkaian stiker animasi yang mempromosikan '12 nilai' sebagai prinsip patriotik dan kesetiaan terhadap kerajaan. (AFP/Aya/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved