Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMUNIKASI antarpihak terkait upaya pembebasan 10 anak buah kapal (ABK) Brahma 12 dan Anand 12 yang disandera kelompok milisi Abu Sayyaf berjalan kian dinamis.
Informasi terkait kondisi WNI pun telah didapatkan dengan berbagai cara.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Lalu Muhammad Iqbal mengungkapkan hal itu kepada Media Indonesia, kemarin.
"Semua opsi masih dibuka sejak kesepakatan awal Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi bertemu dengan Menlu dan Presiden Filipina secara langsung," kata Iqbal.
Komunikasi dengan keluarga para korban sandera juga dilakukan dengan aktif. Rabu (6/4) malam, lanjut Iqbal, pihak Kemenlu bertemu pihak keluarga korban sandera yang datang ke Jakarta.
Pada kesempatan itu, diinformasikan kepada keluarga bahwa kondisi 10 WNI dalam keadaan sehat.
"Kondisi 10 WNI dalam keadaan sehat, sudah dicek melalui berbagai cara," tambah Iqbal.
Selain aktif berkomunikasi dengan keluarga korban, Kemenlu juga terus berkoordinasi dengan pihak perusahaan pemilik kapal PT Patria Maritime Line.
Namun, ketika ditanyai mengenai skema pembebasan terkait permintaan tebusan sebesar Rp14,5 miliar, Iqbal menolak berkomentar.
"Tidak ada informasi yang bisa disampaikan terkait hal itu selain yang disampaikan Menlu beberapa waktu lalu," katanya.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pemerintah masih terus mengupayakan diplomasi dan negosiasi untuk membebaskan 10 WNI yang diculik kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
"Sekarang kita masih terus melakukan diplomasi dan negosiasi. Mudah-mudahan menghasilkan yang terbaik karena jika dengan kekuatan militer, pasti ada dampaknya," kata Ryamizard sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Gedung Utama Sekretaris Negara Jakarta, kemarin.
Waswas
Keluarga Sutomo, 50, warga Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, dilaporkan masih diselimuti perasaan waswas memikirkan nasib sang anak, Bayu Oktavianto, 22, salah satu dari 10 ABK asal Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina, sejak Selasa (29/3).
Perasaan waswas ayah tiga anak itu semakin bertambah setelah sebelumnya mendengar kabar bahwa penyandera memberi batas waktu penyerahan uang tebusan hingga 8 April atau hari ini.
Jika permintaan penyandera tidak dipenuhi, nyawa 10 ABK terancam.
Namun, setelah mendapatkan penjelasan bahwa tenggat itu tidak ada, perasaan Sutomo menjadi lebih lega.
"Hari ini (kemarin), kami sekitar 08.30 WIB menerima telepon dari perwakilan perusahaan PT Patria Maritime Line di Banjarmasin, yang memberitahukan bahwa tidak ada deadline penyerahan uang tebusan Rp15 miliar yang semula ditetapkan pada 8 April. Berita yang hampir sama juga datang dari Kemenlu, yang disampaikan sekitar 11.00 WIB, serta upaya negosiasi untuk pembebasan para sandera terus dilakukan," kata Sutomo.
Sutomo berharap pemerintah segera membebaskan seluruh sandera dan kembali dalam keadaan selamat. (JS/Ant/X-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved