Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
JUMLAH orang yang dieksekusi mati di seluruh dunia meningkat.
Amnesty International mencatat setidaknya 1.634 eksekusi mati terjadi pada 2015 atau naik 54% dari total 1.061 eksekusi mati pada tahun sebelumnya.
Jumlah itu paling tinggi sejak 1989.
Demikian laporan organisasi nonpemerintah internasional yang mempromosikan seluruh HAM dalam Universal Declaration of Human Rights itu.
"Kenaikan jumlah eksekusi mati tahun lalu sangat mengganggu. Selama 25 tahun terakhir, negara-negara di seluruh dunia melakukan hukuman mati begitu banyak," kata Sekretaris Jenderal Amnesty International, Salil Shetty, kemarin.
Sebanyak 89% eksekusi mati dilakukan oleh Iran, Pakistan, dan Arab Saudi.
Iran mengeksekusi setidaknya 977 orang, Pakistan sebanyak 326 orang, dan Arab Saudi sebanyak 158 orang.
Ketiga negara itu belum pernah mengeksekusi mati orang sebanyak itu sebelumnya.
"Iran, Pakistan, dan Arab Saudi melakukan eksekusi mati dengan jumlah yang belum pernah tercatat sebelumnya, kebanyakan setelah menjalani pengadilan yang tidak adil," tambah Shetty.
Wakil Direktur Amnesty International Timur Tengah dan Afrika Utara, James Lynch, mengatakan sejak pertengahan 1980, sebanyak setengah dari jumlah orang yang mejalani eksekusi di Arab Saudi merupakan warga negara asing, kebanyakan pekerja migran yang tidak berbahasa Arab dan minim bantuan hukum.
Namun saat ini, hukuman mati dijatuhkan ke banyak pelaku kriminal.
"Untuk pertama kalinya, kebanyakan negara-negara di dunia memberlakukan hukuman mati untuk segala jenis kriminal," imbuh Lynch.
Angka itu belum termasuk eksekusi yang dijalankan Tiongkok.
Diduga, ada ribuan orang dihukum mati oleh pemerintah Beijing.
Amnesty International menambahkan, di Tiongkok, Vietnam, dan Belarus, urusan hukuman mati merupakan 'rahasia negara'.
Meskipun ada tanda-tanda penurunan angka tindakan eksekusi mati beberapa tahun terakhir di Tiongkok, hal itu belum bisa diverifikasi.(AFP/Aya/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved