Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPULUH tahun lalu atau tepatnya 4 Februari 2002, Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) untuk pertama kali menggunakan sebuah pesawat nirawak (drone) Predator dalam operasi serangan.
Aksi serangan drone Predator itu dilakukan di wilayah Provinsi Paktia, Afghanistan.
Target serangan ialah pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden atau beberapa orang yang masuk daftar target CIA.
Berdasarkan sejarah, drone tanpa pilot tersebut memiliki perkembangan yang panjang.
Sebenarnya, cikal bakal drone telah digunakan Austria pada 22 Agustus 1849.
Sebanyak 200 drone dari pesawat balon yang dilengkapi bom mengudara dan menuju wilayah Vanesia, Italia.
Pada 1896, Samuel P Langley mengembangkan aerodrome bertenaga uap, pesawat tanpa pilot, yang dapat diterbangkan sepanjang Sungai Potomac di dekat Washington DC, Amerika Serikat (AS).
Pada 1916, seorang ilmuwan militer Inggris membuat 'torpedo udara'.
Balon pesawat Zeppelin dengan tenaga gas itu membawa bahan peledak.
Dalam kuliah di Royal Aeronautical Society, Michael Draper, penulis buku Sitting Ducks & Peeping Toms (2011), membeberkan abad rahasia kendaraan udara tak berawak, dimulai dengan prototipe berinisial AT.
Pesawat-pesawat tanpa pilot dapat dikembangkan dalam rentang masa perang.
Ketika Perang Teluk, pesawat nirawak dikembangkan menjadi lebih baik.
Pesawat nirawak yang kini dikenal sebagai drone itu mampu mengirimkan video lokasi musuh.
Dalam perjalanan waktu, militer AS memang menjadi perintis dan memimpin dalam peroperasian drone.
Bahkan drone telah menjadi pusat atau andalan bagi strategi keamanan nasional 'Negeri Paman Sam'.
Semula drone hanya sebatas memantau wilayah dan kekuatan musuh.
Namun, kini drone-drone AS mampu memburu kelompok yang menjadi target sekaligus menghancurkan mereka.
Drone milik armada militer AS memiliki variasi menurut ukuran, bentuk, dan kecanggihan.
Drone Ravens diluncurkan dengan cara dilempar menggunakan tangan hingga Global Hawk, yang dapat mencapai ketinggian 60 ribu kaki (18,288 km).
Sebelum serangan teroris 11 September 2001, 'Negeri Paman Sam' telah mengalokasi dana untuk drone US$284 juta, atau sekitar Rp3,7 triliun.
Pada tahun fiskal 2016, Pentagon berencana menghabiskan hampir US$3 miliar untuk pesawat nirawak.
Dari 2002 hingga 2010, Pentagon terus meningkat jumlah drone hingga empat puluh kali lipat.
Kini, AS memiliki 11 ribu drone dan ratusan drone memiliki senjata yang mampu menggempur musuh dari udara.
MQ-1 Predator mungkin yang paling terkenal dari semua drone militer yang digunakan saat ini.
Pesawat nirawak itu memiliki lebar sayap 55 16,7 meter dan panjang 8,2 meter.
Kecepatan drone tersebut mencapai 135 mph, atau 217 km/jam.
Menurut Angkatan Udara AS, "Sistem Predator dirancang dalam merespons kebutuhan Departemen Pertahanan untuk menyediakan informasi intelijen, pengawasan, dan pengintaian mumpuni yang dikombinasikan dengan kemampuan membunuh."
Pada 2013, Departemen Pertahanan AS memiliki 237 drone Predator dan 112 Reaper.
Pada akhir 2015, drone pemburu-pembunuh itu telah digunakan lebih dari 500 kali untuk membunuh sekitar 3.922 orang di luar medan perang tradisional.
Mayoritas korban di Pakistan. (Guardian/Hym/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved