Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Drone Made in China Banyak Diburu Sekutu AS

BBC/CNN/USA Today/Drd
05/4/2016 04:30
Drone Made in China Banyak Diburu Sekutu AS
(AFP/SAM YEH)

KEHEBATAN drone dalam mengarungi medan-medan sulit dan mencegah kematian personil militer menggoda banyak negara.

Sejumlah negara berlomba untuk mengembangkan teknologi drone.

Pada awalnya mereka mengembangkan drone bukan untuk digunakan di medan pertempuran.

Namun, akhirnya, mereka tertarik mengembangkan pesawat nirawak tersebut sebagai pesawat tempur militer.

Di antara negara yang mengembangkan mesin perang tanpa pilot manusia itu ialah Tiongkok.

'Negeri Tirai Bambu' itu bukan hanya mengembangkan drone untuk meningkatkan kekuatan militernya, melainkan juga mengekspornya ke sejumlah negara berkembang dan alat diplomasi.

Dua bulan lalu, Nigeria mengakui telah menggunakan drone CH-3 buatan Tiongkok untuk memerangi kelompok separatis Boko Haram.

Irak yang menjadi sekutu AS juga menggunakan drone 'made in China' tipe CH-4.

Pesawat yang dibeli akhir tahun lalu tersebut telah diterjunkan untuk memburu kelompok militan, termasuk Islamic State (IS).

Selama ini, Pakistan menjadi mitra utama AS dalam memerangi kelompok militan Taliban.

Dalam membasmi kelompok militan yang berada di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan, negara yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif itu dibantu drone-drone andalan AS.

Pakistan diduga membeli drone tipe CH-4 buatan Tiongkok.

Untuk menjaga hubungan baik dengan sekutu mereka, AS, Islamabad tidak mengakui telah membeli drone buatan negara seteru AS tersebut.

Pejabat setempat menyatakan drone itu asli buatan dalam negeri.

Dugaan lain, Pakistan memang tidak membeli langsung drone buatan Tiongkok.

Namun, komponen-komponen drone buatan Pakistan tersebut didatangkan langsung dari Beijing.

Sejumlah negara sekutu AS--Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab--juga diduga kuat memboyong drone produksi Tiongkok.

Bukan semata murah

Kenapa para sekutu Washington tersebut lebih tertarik membeli drone-drone buatan Tiongkok? Kenapa pula drone militer seteru AS diburu di pasaran?

Ternyata jawabannya bukan sekadar pertimbangan ekonomi karena harganya yang murah.

Drone Tiongkok memang dijual murah.

Drone tipe Wing Loong hanya dipatok harga US$1 juta, atau sekitar Rp13 miliar.

Bandingkan dengan drone Reaper buatan AS, yang harganya dapat mencapai US$30 juta, atau Rp394 miliar.

Namun, menurut sejumlah analis, termasuk Sarah Kreps dari Cornell University, New York, AS, Tiongkok bukan hanya menjual drone yang murah sebagai daya tarik.

Di sisi lain, jual beli senjata telah dijadikan satu elemen sebagai alat hubungan diplomatik.

"Dengan begitu, Tiongkok yang berambisi menjadi negara adidaya dapat memiliki pengaruh kuat di kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika," jelas Kreps.

Di sisi lain, keterlibatan dalam pasar senjata dapat dilihat sebagai simbol prestise.

Hal tersebut tidak berbeda dengan negara yang memiliki program ruang angkasa luar.

Sebagai pemain pasar militer termasuk drone, Tiongkok ingin membuktikan status mereka. Beijing ingin digolongkan negara industri maju secara global khususnya militer.

Namun, apa pun motivasinya, peningkatan penjualan drone telah menjadi pertanyaan besar terutama lingkungan keamanan internasional.

"Dengan banyaknya negara yang memiliki drone 'murah' buatan Tiongkok. justru dikhawatirkan akan meningkatkan ketegangan dan instabilitas antarnegara yang bertetangga," tegas profesor politik dari Cornell University itu.

Sementara itu, AS, negara-negara Eropa, dan Rusia sebagai anggota Missile Technology Control Regime (MTCR) memiliki kehati-hatian dalam menjual senjata termasuk drone.

Sebelum mengekspor drone ke suatu negara, mereka mempertimbangkan banyak hal.

"Jangan sampai negara pengimpor drone menjadi 'penyiram bensin ke api'," jelasnya. (BBC/CNN/USA Today/Drd/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya