Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Drone Jadi Andalan Serangan

Deri Dahuri
05/4/2016 04:20
Drone Jadi Andalan Serangan
(AFP)

DALAM Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir di Washington, Amerika Serikat (AS), pekan lalu, Presiden AS Barack Obama tiba-tiba melontarkan pernyataan yang menyimpang dari tema.

Obama membela diri terkait dengan militernya yang rutin mengerahkan drone dalam sejumlah serangan dengan target para pemimpin dan kamp latihan kelompok militan di wilayah Somalia, Libia, dan Yaman.

AS mulai mengerahkan drone untuk memburu kelompok militan di sejumlah negara saat 'Negeri Paman Sam' dipimpin Presiden George Walker Bush sejak 2004.

Pada era Obama, pengerahan drone meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan era Bush.

Satu dari beberapa kesalahan fatal dari serangan drone AS terjadi di Waziristan, Pakistan, pada 17 Maret 2011.

Saat itu, serangan tersebut menewaskan beberapa anggota kelompok militan Taliban.

Namun, serangan drone turut membunuh 40 warga sipil yang sedang menghadiri acara pernikahan.

Ia mengakui bahwa sejumlah serangan drone AS kerap merenggut nyawa warga sipil yang tak berdosa.

AS yang tak mau disalahkan atas dampak serangan pesawat nirawak itu berjanji untuk memperbaiki kesalahan target tersebut.

"Ada kritik yang benar bahwa rancangan, rancangan legal seputar serangan drone atau aksi lainnya yang tidak pas sebagaimana semestinya.

Tidak diragukan lagi, ada beberapa warga sipil tewas yang seharusnya tidak terjadi," ucap Obama.

Di balik rasa penyesalan itu, Obama menegaskan betapa bermanfaat dan efektifnya penggunaan drone untuk menggempur musuh AS.

'Negeri Paman Sam' menyatakan tidak akan menyetop pengerahan drone.

"Ada evaluasi secara terus-menerus yang tepat dengan apa yang kami lalukan," ucap Obama yang habis masa jabatannya akhir tahun ini.

Drone dikenal pula dengan istilah unmanned aerial vehicle (UAV) atau kendaraan udara tanpa manusia.

Istilah lain untuk drone ialah remotely piloted aerial systems (RPAS) atau sistem udara dengan pilot jarak jauh.

Penggunaan drone itu diawali pertimbangan sasaran yang dituju terlalu berisiko dan sulit.

Namun, dengan penggunaan drone, pemantauan dari udara dapat dilakukan selama 24 jam.

Drone yang dilengkapi roket juga dapat menggempur posisi lawan di darat yang sulit dijangkau dan berisiko bagi personel pasukan militer.

Selama ini, ada dua tipe drone ukuran medium milik AS yang digunakan di wilayah Pakistan dan Afghanistan, yakni drone MQ-1B Predator dan MQ-9 Reaper.

Selain dilengkapi alat sensor, kamera, dan radar, drone tersebut dipersenjatai roket yang dipadu laser.

Tewaskan pemimpin Al-Shabab

Pernyataan Obama terkait dengan drone yang menyimpang dari KTT Keamanan Nuklir itu sebenarnya tidak lepas dari kesuksesan penggunaan pesawat tanpa pilot tersebut.

Jelang akhir penutupan KTT di Washington tersebut, drone AS dilaporkan telah membunuh tokoh kunci kelompok militan Al-Shabab, Hassan Ali Dhoore, dan dua orang kepercayaannya di selatan Kota Jilib, Somalia.

Pada tahun lalu, kelompok tersebut menyerang dan menewaskan beberapa warga termasuk pejabat AS.

Serangan drone pekan lalu ialah serangan drone kedua yang sukses di Somalia.

Pada Maret lalu, jet tempur AS yang dipiloti personal militer dan dibantu beberapa drone juga melakukan serangan ke kamp latihan kelompok Al-Shabab.

Serangan itu menewaskan lebih dari 100 orang. Dalam serangan itu tidak dilaporkan apakah warga sipil yang turut terbunuh.

Hermes andalan Inggris

Sekutu AS, Inggris, juga kerap menggunakan drone yang dikendalikan dari jarak jauh.

Militer Inggris memiliki drone andalan Hermes 450 UAV yang telah diterjunkan ke wilayah Irak dan Afghanistan.

Untuk drone ukuran kecil biasanya digunakan untuk memeriksa ranjau bom sebelum tentara Inggris berpatroli ke daerah tersebut.

Sebagaimana Reaper milik AS, Hermes juga dilengkapi alat pemantau dan senjata.

Bahkan kini Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) memiliki drone Hermes yang ukurannya jauh lebih besar daripada drone Reaper.

AS dan sekutunya kerap terbuka soal tipe-tipe drone yang dimiliki mereka. Negara adidaya, Rusia, cenderung tertutup dengan pesawat nirawak mereka.

Sebuah sumber intelijen mengatakan drone milik Rusia dengan satu tank bahan bakar dapat terbang sejauh 2.012 kilometer.

Beberapa drone dilengkapi roket R-46 dan bisa lolos dari deteksi radar.

Kebutuhan drone untuk mengimbangi kekuatan musuh menjadi mendesak. India yang kerap bersengketa dengan negara tetangganya, Pakistan dan Tiongkok, dilaporkan telah membeli drone tipe Predator Avenger dari AS.

Di era kepemimpinan PM Narendra Modi, India tampaknya tidak lagi mau mengalami ketergantungan pada asing dalam mengembangkan kekuatan militernya.

Melalui kerja sama dengan sebuah perusahaan swasta, angkatan bersenjata setempat pun memutuskan membuat drone buatan sendiri.

K Tamilmani, Direktur Jenderal Aeronautik Organisasi Pengembangan dan Riset Pertahanan India, mengatakan siap membuat drone mirip dengan drone Predator buatan AS yang diberi nama Rustom.

Rustom akan dijadikan drone andalan untuk mengawasi wilayah India yang bersengketa dengan Pakistan dan India. (BBC/USA Today/CNN/AFP/Drd)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya