Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Dirty Harry dari Filipina

AFP/Adiyanto/I-3
28/3/2016 01:15
Dirty Harry dari Filipina
(AP/Bullit Marquez)

NAMA panggilannya Duterte Harry.

Nama itu dicomot dari karakter Dirty Harry, film yang diperankan aktor Amerika, Clint Eastwood.

Di film itu, Eastwood berperan sebagai Harry Callahan, seorang inspektur polisi di San Francisco yang tegas menumpas penjahat jalanan.

Peran semacam inilah yang dijanjikan sang 'Dirty Harry' dari Filipina bila dirinya terpilih sebagai presiden negeri itu.

Dia ingin menekan angka kriminalitas di negerinya.

Pria itu ialah Rodrigo Duterte.

Politikus berusia 70 tahun itu pernah puluhan tahun bertugas sebagai wali kota di Davao City.

Di kota itu, dia memegang pemerintahan dengan tangan besi, terutama dalam memerangi para bandit di selatan kota itu.

Upaya Duterte membuahkan hasil. Angka kejahatan turun, begitu pun dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik selama 22 tahun dia berkuasa.

Duterte yang juga seorang pengacara dan anggota kongres merupakan putra bekas Gubernur Davao.

Dia lahir dari keluarga kelas menengah yang menanamkan nilai-nilai puritan.

Sewaktu kecil, orangtua dan gurunya di sekolah tak segan-segan memberikan hukuman fisik jika dia berbuat salah.

Sewaktu bertugas sebagai wali kota Davao, Duterte kerap blusukan. Kadang, sambil menunggangi Harley Davidsonnya, tak jarang pula dengan menyamar sebagai sopir taksi, dia menyusuri jalan.

Semua itu dilakukannya untuk menegakkan hukum.

Pernah suatu kali dia memaksa turis asing mengunyah tembakau lantaran kedapatan merokok di daerah terlarang.

Sifat tegas dan kerasnya itu kini dia usung menjadi jargon kampanyenya dalam pemilihan presiden Filipina, Mei nanti.

Dia sesumbar akan menumpas para kriminal.

Dia juga berjanji akan membuka kasus kriminal yang belum terungkap yang selama ini dikatakan terjadi akibat main hakim sendiri.

Selain itu, Duterte bertekad akan menumpas gerakan separatis serta para koruptor.

Seperti diketahui, pemerintah Filipina kerap mendapat rongrongan dari separatis muslim Moro.

Namun, Duterte menolak sikap ekstremnya disamakan dengan salah seorang kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump.

"Donald Trump seorang bigot (fanatik buta). Saya bukan," ujarnya ketika ditanya misinya membasmi gerakan separatis.

Dalam acara debat di televisi baru-baru ini, Duterte kembali menceritakan kisah suksesnya sebagai Wali Kota Davao.

Katanya, dia tak segan-segan membunuh para gembong narkoba.

"Ketika saya bilang pergi dari Davao, Anda harus pergi. Sebab kalau tidak kalian akan mati.

Itu kisahnya, tak perlu drama,'' ujar sang Dirty Harry, disambut aplaus hadirin.

Pada survei kandidat Presiden Filipina yang dilakukan lembaga Social Weather Stations (SWS), bulan lalu, Duterte meraih 24% suara.

Ia mampu mengalahkan tokoh dari Partai Liberal (LP) Mar Roxas dengan 18% suara.

Popularitas Duterte belum mampu menggeser popularitas Wakil Presiden Filipina Jejomar Binay.

Binay masih meraih suara tertinggi dengan 29%. (AFP/Adiyanto/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya