Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN dukungan serangan udara jet tempur Rusia, pasukan pemerintah Suriah berhasil mengambil alih area kawasan kota tua Palmyra dari tangan Islamic State (IS), Minggu (27/3).
Sebanyak 400 anggota IS tewas dan 188 pasukan pemerintah Suriah dan milisi tewas.
Dalam pertempuran itu, angkatan bersenjata Suriah berhasil menjinakkan sejumlah ranjau dan bom yang ditanam kelompok militan IS di wilayah sekitar Kota Palmyra.
"Ini merupakan kerugian terbesar yang pernah dialami IS dalam satu pertempuran sejak berdirinya pada 2013," kata Direktur Observatorium Hak Asasi Manusia (HAM) Suriah (SOHR), Rami Abdel Rahman.
Bahkan, tambah Abdel Rahman, kekalahan IS kali ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kekalahan pertempuran di Kobane, perbatasan Turki.
Pejuang suku Kurdi yang mendapat bantuan senjata dari Amerika Serikat (AS) mampu menahan gempuran IS dalam periode 2014-2015.
Abdel Rahman melaporkan sekelompok pejuang IS sempat menolak meninggalkan Kota Palmyra.
Mereka berniat melawan angkatan bersenjata Suriah hingga akhir.
Namun, akhirnya pejuang IS mundur menuju Kota Sukhnah dan Deir Ezzor di timur atas perintah komandan tinggi IS.
Observatorium HAM Suriah melaporkan tentara Suriah juga mengambi alih bandara di wilayah tenggara Palmyra.
"Setelah semalaman bertempur, tentara (Suriah) mengendalikan Palmyra sepenuhnya, baik situs kuno maupun permukiman," kata sumber militer.
Tentara Rusia secara aktif terlibat dalam pertempuran melawan IS di Suriah sejak September 2015.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan dalam pertempuran 24 jam, pihaknya mengerahkan 40 jet tempur untuk menggempur 158 lokasi yang dikuasai IS.
Diambilalihnya Palmyra secara de facto telah mendorong tentara Suriah dan kelompok milisi pendukungnya untuk merebut wilayah Raqa di lembah Efrat hingga ke wilayah utara Suriah dari tangan IS.
"Tentara akan mendapat kepercayaan diri dan moral, juga akan mempersiapkan diri untuk pertempuran berikutnya yang diduga berlangsung di Raqa," imbuh sumber militer, Sabtu (26/3).
IS telah menguasai dan mengendalikan Kota Palmyra sejak Mei 2015.
Kelompok militan itu meruntuhkan dua situs kuil bersejarah, lengkungan kemenangan, dan lusinan menara pusara.
Kemenangan Simbolis
Dengan diambilalihnya 'mutiara peradaban dunia', Palmyra, ruang gerak IS kian berkurang.
Jalur yang menghubungkan Palmyra ke Raqa kini berada di bawah kontrol tentara Suriah.
Pejuang IS di kota tua itu hanya bisa mundur ke arah timur menuju perbatasan Irak.
Untuk pertama kalinya, pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad meraih kemenangan besar atas IS.
Selain itu, kemenangan itu juga menjadi kemenangan simbolis pemerintah Suriah atas kawasan pusat peradaban dunia dan rute penghubung Kekaisaran Roma dengan Persia.
Pada Kamis (24/3), Kepala UNESCO, Irina Bokovam, menyambut baik serangan pemerintah Suriah ke IS untuk mengambil alih Palmyra.
"Palmyra selama ini merupakan simbol pembersihan kebudayaan yang ada di Timur Tengah," katanya.(AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved