Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMAS mengumumkan kesepakatan dengan Israel untuk mengakhiri gejolak kekerasan yang meningkat di Jalur Gaza, Senin (31/8).
Di bawah perjanjian yang ditengahi Qatar itu, para militan Hamas akan menghentikan serangan mereka dan sebagai gantinya Israel mencabut blokade di perbatasan.
Perkembangan muncul dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor pemimpin kelompok yang memerintah Jalur Gaza yang diblokade, Yahya Sinwar, setelah pembicaraan yang dimediasi oleh Qatar.
“Setelah melalui putaran dialog dan komunikasi, yang terakhir dilakukan oleh perwakilan Qatar, Duta Besar Mohammed Al-Emadi, dicapai kesepahaman untuk mengekang eskalasi dan menghentikan agresi Zionis terhadap rakyat kita,” kata Sinwar.
Pernyataan itu mengindikasikan situasi akan kembali seperti sebelum eskalasi, mengungkapkan terima kasih dan penghargaannya atas upaya dan dukungan Qatar untuk rakyat Palestina.
Dalam kesepakatan itu, Hamas akan menghentikan peluncuran balon yang berisi bahan peledak. Sebagai imbalannya, Israel akan mengizinkan nelayan keluar ke Mediterania, mengurangi pembatasan barang masuk, dan kembali memasok bahan bakar ke Gaza.
Perjanjian antara Hamas dan Israel diucapkan oleh Mohammed al-Emadi, seorang duta besar Qatar yang mengepalai Komite Negara untuk Rekonstruksi Gaza dan telah bolak-balik antara Israel dan Gaza selama berhari-hari.
Israel harus buka akses
PBB mendesak Israel segera membuka akses dan mengizinkan pengiriman barang-barang esensial, termasuk bahan bakar minyak (BBM), ke Jalur Gaza.
Hal itu guna mencegah terjadinya bencana kemanusiaan di wilayah yang diblokade tersebut. Koordinator Kemanusiaan PBB Jamie McGoldrick mengungkapkan situasi di Gaza selama beberapa pekan terakhir sangat memprihatinkan. Israel telah membatasi pengiriman barang ke Gaza dan mengurangi luas zona penangkapan ikan bagi nelayan yang tinggal di sana. Tak hanya itu, Israel bahkan memblokade pengiriman bahan bakar, termasuk bahan bakar yang difasilitasi PBB untuk satu-satunya pembangkit listrik di Gaza.
“Akibatnya, pembangkit listrik Gaza menghentikan operasinya pada 18 Agustus secara tajam mengurangi penyediaan listrik untuk hampir dua juta warga Palestina,” ujar McGoldrick pada Senin (31/8) seperti dilaporkan laman kantor berita Palestina WAFA.
Berkurangnya pasokan listrik sangat berdampak pada sektor-sektor vital di Gaza, terutama kesehatan. Saat ini Gaza juga tengah berjuang menangani pandemi virus korona baru (covid-19). Sejauh ini terdapat 280 kasus aktif dan 243 di antara nya adalah penularan komunitas. (AA/Hym/Aljazeera/Wafa/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved