Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Biden Unggul, Trump Sebut Jajak Pendapat Palsu

Faustinus Nua
21/7/2020 02:35
Biden Unggul, Trump Sebut Jajak Pendapat Palsu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri), calon presiden Amerika Serikat Joe Biden(AFP)

CALON Presiden Amerika Serikat Joe Biden unggul atas petahana Donald Trump dalam hasil jajak pendapat yang dikeluarkan pada Minggu (19/7). 

Biden memimpin sebesar 15% pada pemilih yang terdaftar secara nasional dan unggul 20 poin tingkat kepercayaan orang Amerika dalam menangani pandemi covid-19.

Menanggapi hal itu, Trump mengaku dirinya tidak kalah dan hasil jajak pendapat itu palsu yang sengaja dimainkan media. “Saya tidak akan kalah karena itu ialah jajak pendapat palsu,” ungkap Trump.

Penasihat kampanye Trump, Jason Miller, menilai jajak pendapat tidak pernah benar. Sejak 2016, hasil pilpres telah membuktikan jajak pendapat justru salah.

“Jajak pendapat dari media salah pada 2016 dan menjadi lebih buruk pada 2020. Sekarang mereka telah menjadi jajak pendapat yang menindas, dengan tujuan khusus dan disengaja. Tujuannya mencoba untuk mendemotivasi basis dukungan Donald Trump,” ungkap Miller.

Sebelumnya, jajak pendapat ABC News/Washington Post juga mengeluarkan hasil yang sama. Biden memimpin 2 poin pada Maret dan 10 poin pada Mei. Sekarang, di antara responden yang mengatakan akan memilih pada November, Biden memimpin dengan 11%.

Fox News juga merilis polling pada Minggu (19/7) dan lagi-lagi menempatkan Biden di posisi teratas. Biden unggul terkait dengan isu pandemi, hubungan ras, dan ekonomi. Hasil polling sejumlah media akhir-akhir ini terus menunjukkan penurunan drastis dukungan untuk Trump.

Sementara itu, lawannya, Biden, mendapat simpati dan kepercayaan warga AS. Kinerja Trump dinilai kurang memuaskan warga AS. Sejumlah kebijakan secara khusus terkait pandemi dan isu rasial telah menekan dukungan bagi Trump menjelang pilpres AS pada November nanti.


Tolak Berkomitmen

Trump menolak untuk secara terbuka berkomitmen untuk menerima hasil pemilihan presiden yang akan datang pada November. Ia juga menolak untuk mengatakan apakah bendera Konfederasi ialah simbol ofensif.

Dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara Fox News, Chris Wallace, yang disiarkan pada Minggu (19/7), Trump mengatakan masih terlalu dini untuk membuat jaminan kuat seperti itu. Ia menggemakan ancaman serupa yang ia buat beberapa minggu sebelum pemungutan suara 2016.

“Saya harus memastikannya. Dengar... saya harus memastikannya,” kata Trump. “Tidak, saya tidak akan mengatakan ya. Saya tidak akan mengatakan tidak, dan saya juga tidak melakukannya sebelumnya.”

Sementara itu, pihak kampanye Biden menjawab, “Rakyat Amerika Serikat akan memutuskan pemilihan ini. Dan, pemerintah Amerika Serikat sangat mampu mengawal para penyusup keluar dari Gedung Putih.”

Trump, empat tahun lalu, ketika dalam tahap penutupan kampanyenya melawan Hillary Clinton, dia mengatakan tidak akan berkomitmen untuk menghormati hasil pemilu jika Demokrat menang. (The Guardian/Al Jazeera/Hym/I-1)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya