Rabu 06 November 2019, 23:00 WIB

Planet Bumi Menghadapi Keadaan Darurat Iklim

Planet Bumi Menghadapi Keadaan Darurat Iklim

Ilustrasi
Pemanasan global

 

LEBIH dari 11 ribu ilmuwan memperingatkan kesengsaraan yang tak terhitung akan melanda bumi akibat dari pemanasan global. Bahkan mengatakan bahwa Perjanjian Iklam Paris untuk mengurangi karbon tak berhasil mengejar laju pemanasan global yang semakin cepat.

“Dengan beberapa pengecualian, perjanjian negara-negara kaya, berpenghasilan menengah dan miskin tidak cukup untuk mengatasi perubahan iklim,” terang Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC), Robert Watson, Selasa (5/11).

“Ketika mereka berdiri, janji itu terlalu sedikit, sudah terlambat,” sambung Watson yang juga menjadi Ketua Badan Ilmu Keanekaragaman Hayati PBB (IPBES).

Secara bersamaan, 11 ribu ilmuwan menyuarakan bahwa bumi dalam keadaan darurat tingkat tinggi. Para ilmuwan tersebut mencatat bahwa dunia telah gagal dalam bertindakan menangani pemanasan global. “Kami menyatakan, dengan jelas dan tegas, bahwa planet Bumi menghadapi keadaan darurat iklim,” terang pernyataan yang dirilis dalam jurnal BioScience itu.

Jika tujuan Perjanjian Iklim Paris untuk membatasi kenaikan suhu 1,5-2,0 derajat Celcius terpenuhi, emisi gas harus turun 50% pada 2030 mendatang. Adapun pada 2050, mencapai nol emisi.

Namun pada 2018, polusi karbon global mencapai angka tertinggi, yakni 41 miliar ton karbon. Jumlah itu meningkat 2% dari tahun 2017 sebelumnya, yang juga tercatat sebagai rekor tertinggi.

Kenaikan itu meningkatkan dampak gelombang panas yang mematikan, banjir maupun badai dahsyat. Saat ini suhu bumi bergerak naik 2 atau 3 derajat lagi pada akhir abad ini.

AS justru mulai memperoses menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris. Ini memicu kekhawatiran negara lain atas komitmennya terhadap Perjanjian Iklim Paris yang dibuat pada 2015. “Tiongkok dan India dapat mengatakan ‘kita akan menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah pemimpin iklim’, atau mereka bisa mengatakan ‘jika AS tidak akan melakukannya, kita juga tidak akan melakukannya’,” terang profesor Ilmu Kelautan Universitas Harvard, James McCarty. (AFP/Uca/I-1)

Baca Juga

AFP/Hoshang Hashimi.

Salah Sasaran, AS Tawarkan Kompensasi atas Tewasnya 10 Warga Afghanistan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 15:43 WIB
Haidari, yang saudara laki-lakinya Naser dan sepupu mudanya juga tewas dalam ledakan itu, mengatakan pada 18 September bahwa AS tidak...
AFP/Javed Tanveer.

ISIS Klaim Dalangi Bom Masjid Syiah di Kandahar Afghanistan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 15:43 WIB
Serangan Jumat itu terjadi hanya seminggu setelah serangan lain yang diklaim ISIS terhadap jemaah Syiah di masjid dalam kota utara Kunduz...
AFP

NASA akan Luncurkan Lucy untuk Selidiki Asteroid Jupiter

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 13:45 WIB
Roket Atlas V yang bertanggung jawab untuk mendorong pesawat itu dijadwalkan lepas landas pada Sabtu (16/10) pukul 05.34 waktu setempat...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya