Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Petualang AS Berhasil Menjelajah Antartika Tanpa Bantuan

Tesa Oktiana Surbakti
27/12/2018 19:45
Petualang AS Berhasil Menjelajah Antartika Tanpa Bantuan
(AFP)

PENJELAJAH asal Amerika Serikat (AS) menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan perjalanan tunggal melintasi Antartika tanpa bantuan apapun.

Colin O'Brady yang berusia 33 tahun, membutuhkan waktu 54 hari untuk merampungkan penjelajahan sekitar 1.600 kilometer (km) di benua beku.

"Saya berhasil mencapai tujuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang mampu melintasi Benua Antartika sendirian tanpa hambatan dan tanpa bantuan," bunyi unggahan O'Brady dalam akun instagramnya, setelah menempuh 77,5 mil dalam 32 jam terakhir.

"Sementara itu, 32 jam terakhir merupakan waktu paling menantang dalam hidup saya. Sejujurnya itu adalah momen terbaik yang pernah saya alami," imbuh pendaki yang memegang rekor dunia untuk Explorers Grand Slam dan Seven Summit.

"Saya terkunci dalam situasi aliran terendah sepanjang waktu, sembari tetap fokus pada tujuan akhir. Saya membiarkan pikiran ini menceritakan pelajaran mendalam dari sebuah perjalanan. Saya ingin sekali menulis ini karena saya belum bisa tidur sampai sekarang," kisah O'Brady.

Baca Juga: Mapala UI Gapai Puncak Tertinggi Antartika

Perjalanannya terdeteksi oleh GPS. Pembaruan langsung dari perjalanan tersebut terus muncul di situs colinobrady.com. Sebelumnya, O'Brady dan seorang warga negara Inggris, yakni Kapten Angkatan Darat Louis Rudd, berangkat secara terpisah pada 3 November dari Union Glacier. Keduanya berupaya menjadi yang pertama menjelajah Benua Antartika secara mandiri.

Pada 1996, seorang penjelajah kutub asal Norwegia, Borge Ousland, menjalani perjalanan solo pertama di Benua Antartika. Namun, penjelajahannya dibantu layang-layang.

O'Brady dan Rudd berngkat dengan kereta luncur lintas negara atau biasa disebut kereta gantung yang beratnya hampir 180 kilogram (kg). Kemudian, O'Brady berhasil mencapai Kutub Selatan pada 12 Desember, setelah memasuki 40 hari perjalanan. Usai menempuh total perjalanan 921 mil, dia tiba di titik akhir Paparan Es Ross, Samudra Pasifik. Sementara itu, posisi Rudd sekitar satu atau dua hari di belakang.

Lebih lanjut, O'Brady mengungkapkan kerap membulatkan tekad setiap sarapan, untuk menyelesaikan perjalanan sampai titik akhir.

"Saat saya merebus air untuk sarapan pagi, muncul pertanyaan yang tampak mustahil di benak saya," tutur O'Brady.

"Saya bertanya-tanya, apakah mungkin melakukan satu dorongan terus menerus sampai akhir?," kenangnya.

"Pada saat memasang sepatu bot, saya yakin bahwa rencana mustahil menjadi tujuan yang kokoh. Saya akan terus maju, dan mencoba menyelesaikan seluruh 80 mil sampai akhir, dalam sekali jalan," tulis O'Brady.

Surat kabar The New York Times menggambarkan upaya O'Brady sebagai salah satu prestasi paling luar biasa dalam sejarah perkutuban.

"Untuk menyelesaikan 77,45 mil terakhir dalam satu perjalanan, pada dasarnya melawan angin dalam marathon pada hari ke-53 perjalanan yang belum pernah terjadi, menetapkan garis lebih tinggi bagi siapa saja yang mencoba melampauinya," bunyi ulasan Times.

Pada 2016, seorang perwira tentara Inggris, yakni Letnal Kolonel Henry Wosley, harus menghembuskan napas terakhir, ketika berupaya menyelesaikan penjelajahan solo tanpa bantuan di Benua Antartika.(AFP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya