Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Upacara Pemakaman di India Jadi Peluang Bisnis Pengusaha Startup

Tesa Oktiana Surbakti
28/11/2018 13:55
Upacara Pemakaman di India Jadi Peluang Bisnis Pengusaha Startup
(AFP/INDRANIL MUKHERJEE)

TRADISI pemakaman di India yang tergolong rumit, membuka peluang bisnis bagi pengusaha startup. Mulai dari menyediakan urin sapi, dupa, tandu bambu, hingga memanggil pendeta Hindu, tidak lagi sulit diwujudkan dengan pemesanan berbasis aplikasi.

Biasanya, keluarga yang sedang dirundung duka harus terburu-buru mencari lusinan barang yang diperlukan agar upacara perpisahan dengan orang terkasih dapat segera dilakukan. Persoalan itu berusaha dipecahkan beberapa perusahaan startup yang menjual perangkat upacara pemakaman.

Warga yang hidup di perkotaan, terutama kalangan profesional yang sibuk dengan pekerjaan, melihat layanan penjualan perangkat upacara pemakaman secara daring, layaknya berkah dari Tuhan. Di sisi lain, toko-toko tradisional memandang inovasi tersebut merugikan bisnis mereka.

Pengusaha asal Mumbai, Parag Mehta, mengaku sangat diuntungkan dengan adanya layanan penjualan tersebut. Dalam dua pekan, dia harus mengatur pemakaman keluarga. Dengan waktu yang cukup sempit, Mehta memutuskan memesan seluruh perangkat pemakaman melalui aplikasi penjualan. Mehta membeli perlengkapan dari SarvaPooja, startup yang berbasis di Mumbai. Tak lama kemudian, sebuah kotak berisi 38 jenis barang untuk upacara Hindu tiba, termasuk pot tanah, dupa, urin sapi dan kotoran, air mawar serta beras.

"Ini memudahkan hidup kami, apalagi dalam situasi yang begitu emosional dan penuh tekanan," tutur Mehta kepada AFP.

Baca Juga:

Di Era Kepemimpinan Jokowi Startup Maju Pesat

Prosesi pemakaman Hindu dikenal rumit dan biasanya mencakup pengurapan tubuh dengan cairan dari pohon cendana, pembakaran kotoran sapi dan pemecahan kelapa. Anggota keluarga kemudian membawa jasad almarhum ke krematorium dengan menggunakan tandu bambu. Sebelum jasad keluarganya dibakar, seluruh anggota keluarga mengelilingi tumpukan kayu bakar. Abu dari jasad yang telah dikremasi, biasanya ditabur di Sungai Gangga, yang sangat dihormati umat Hindu.

Pendiri SarvaPooja, Nitesh Mehta, yang tidak memiliki hubungan darah dengan Parag Mehta, menuturkan pihaknya mulai berbisnis perangkat upacara pemakaman sejak tahun lalu. Sejauh ini, dia berhasil menjual hingga 2000 perangkat sejak situs diluncurkan. Nitesh memandang sifat khas upacara pemakaman Hindu, dengan ketentuan kremasi maksimal tiga hari setelah kematian, memberikan celah bisnis untuk menyediakan layanan one-stop solution.

"Kami memutuskan menciptakan bisnis yang menjadi solusi untuk permasalahan lokal di India," ucap Nitesh yang menyandang gelar insinyur komputer.

Perangkat upacara pemakaman yang dijual secara daring, lanjut dia, sesuai dengan kebutuhan sebagian besar komunitas Hindu tradisional, seperti Jain dan Gujarat. Dia mengaku belum sepenuhnya meraup untung dari bisnis yang baru berumur jagung. Nitesh tidak menampik masyarakat India masih menyukai pembelian secara tradisional. Kendati demikian, toko-toko tradisional mulai terusik dengan eksistensi bisnis daring tersebut seperti sebuah cubitan.

"Sudah puluhan tahun kami berjualan perangkat upacara pemakaman. Tetapi layanan penjualan daring ini memunculkan jalan pintas bagi masyarakat yang sedang diburu waktu. Keberadaan bisnis daring jelas mulai mempengaruhi usaha kami," tutur Sashi Shinde, pemilik toko penjualan perangkat pemakanan yang berlokasi dekat sebuah krematorium di Mumbai.

Bisnis startup lainnya yang juga melayani penjualan perangkat upacara pemakaman, Mokshshil, sudah berjalan tiga tahun. Perusahaan yang berbasis di Ahmedabad, menawarkan penjualan perangkat yang terdiri dari 32 jenis barang. Sang pemilik, Bilva Desai Singh, berharap inovasi penjualan mampu mengubah stigma masyarakat India tentang kematian. Dia berencana memperluas layanan penjualan ke kota-kota lain di India, termasuk memulai melayani pengiriman ke luar negeri.

"Penduduk India yang mencapai satu miliar juga diwarnai dengan miliaran stigma, serta prasangka terhadap hal-hal tabu seperti kematian. Perlu adanya kesadaran untuk membicarakan hal kematian misalnya, bagaimana mempermudah prosesnya," pungkas Desai Singh.(AFP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya